17 Oktober 2017•Update: 17 Oktober 2017
Ilker Girit
ISTANBUL
Paus Fransiskus meminta pemerintah dunia untuk menghentikan migrasi paksa, dan mendesak AS untuk tetap menjalankan kesepakatan perubahan iklim di Paris, karena perubahan iklim adalah salah satu pemicu migrasi.
Dalam rangka Hari Pangan Sedunia di markas besar FAO di Roma, pemimpin Gereja Katolik mengatakan bahwa migrasi seharusnya menjadi pilihan sukarela.
"Mengelola mobilitas manusia memerlukan tindakan yang terkoordinasi dan sistematis sesuai dengan norma internasional yang sudah ada, dan dengan penuh cinta dan kecerdasan," ujar Paus Fransiskus.
Sebagai tanggapan atas pernyataan pemimpin AS yang akan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris, Paus mengatakan bahwa perubahan iklim adalah "penyebab kelaparan, jadi marilah kita tidak memandangnya sebagai suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan".
Pemerintah AS pada Agustus mengeluarkan pemberitahuan tertulis pertama kepada PBB dengan maksud untuk menarik diri dari kesepakatan iklim pada April 2016.
Pemberitahuan tersebut dikeluarkan sebulan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan akan menarik Amerika dari kesepakatan internasional, karena kesepakatan tersebut "memberatkan" AS dan akan memakan banyak waktu, biaya, dan tenaga.
Menurut data FAO, dari 2008-2015 sebanyak 26,4 juta jiwa telah mengungsi tiap tahunnya karena perubahan iklim atau bencana.
"Jumlah seluruhnya diperkirakan mencapai 244 juta migran internasional, yang artinya meningkat 40 persen sejak tahun 2000," kata FAO dalam pernyataan tertulis.