Maria Elisa Hospita
20 April 2020•Update: 21 April 2020
Enes Canli
ANKARA
Misi Dukungan PBB di Libya mengungkapkan bahwa fasilitas kesehatan di negara itu telah diserang 23 kali selama setahun terakhir.
"Sejak April tahun lalu, sejumlah fasilitas kesehatan kami diserang. Sedikitnya 80 orang tewas dan 61 lainnya luka-luka," papar misi tersebut.
"Tahun ini saja, kami mencatat ada sembilan serangan yang menewaskan lima orang dan melukai 12 lainnya," tambah mereka.
Gencatan senjata kemanusiaan yang diusulkan oleh PBB dimulai sejak 22 Maret untuk menghentikan bentrokan antara pihak-pihak yang bertikai di Libya selama pandemi virus korona.
Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB mengumumkan bahwa mereka menerima proposal tersebut.
Di sisi lain, pasukan yang loyal kepada Jenderal Khalifa Haftar yang berbasis di Libya Timur mengabaikan seruan gencatan senjata dan terus melancarkan serangan udara ke Tripoli.
Sehari setelah kasus Covid-19 pertama dikonfirmasi di Libya pada 23 Maret, milisi pro-Haftar melancarkan serangan paling intens di Tripoli.
Sejak lengser dan wafatnya Muammar Khaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang diakui PBB dan komunitas internasional.
GNA diserang oleh pasukan Haftar sejak April lalu hingga menewaskan lebih dari 1000 orang.
Sejak pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China, pada Desember lalu, virus korona yang secara resmi dikenal sebagai Covid-19 telah menyebar ke setidaknya 185 negara dan wilayah.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Johns Hopkins University di Amerika Serikat, virus tersebut telah menginfeksi 2,4 juta orang, di mana lebih dari 55.000 meninggal dunia dan sekitar 220.000 pasien sudah dinyatakan pulih.