Rhany Chairunissa Rufinaldo
21 Mei 2019•Update: 21 Mei 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
PBB mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengurangi ketegangan di tengah aksi saling tuding di antara dua negara.
Juru bicara Stephane Dujarric mengatakan kepada wartawan di markas besar PBB di New York bahwa badan internasional itu prihatin dengan meningkatnya retorika antara kedua negara.
Dujarric juga meminta semua pihak yang berkepentingan untuk mengambil pendekatan yang lebih tenang di wilayah yang kompleks.
"Ini adalah wilayah yang sangat fluktuatif, Setiap perkembangan, apakah itu tindakan di lapangan atau retorika, selalu bisa disalahartikan dan hanya bisa meningkatkan risiko wilayah yang mudah berubah menjadi lebih tidak stabil," ujar dia.
Desakan Dujarric muncul ketika Presiden AS Donald Trump membantah laporan bahwa Washington sedang berusaha untuk melakukan negosiasi dengan Teheran.
"Iran akan menghubungi kami jika ketika mereka siap. Sementara itu, ekonomi mereka terus runtuh - sangat menyedihkan bagi rakyat Iran!" cuit Trump di Twitter.
Pernyataan presiden tersebut mengesankan nada yang sangat berbeda dari komentar yang disampaikannya pada Minggu, memperingatkan Iran bahwa jika mereka menginginkan konflik dengan AS, maka itu akan menjadi akhir negara Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menanggapi cuitan Trump dengan menyatakan harapan untuk mencapai apa yang gagal dilakukan oleh Alexander, Genghis dan lainnya, merujuk pada para penakluk paling produktif dalam sejarah dunia.
"Iran telah berdiri tegak selama ribuan tahun sementara semua penyerang pergi #JanganPernahAncamIran," cuit Zarif
Utusan Iran di PBB, dalam sebuah surat kepada Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres, mengatakan bahwa Teheran tidak menginginkan perang, tetapi jika dipaksakan, negara akan dengan penuh semangat menggunakan haknya untuk mempertahankan bangsa dan melindungi kepentingan.
Majid Takht-Ravanchi, duta besar Iran untuk PBB, juga mendesak pembentukan forum dialog kolektif antara negara-negara di Teluk Persia.
*Betul Yuruk berkontribusi pada berita ini dari PBB