Chandni
10 April 2018•Update: 11 April 2018
Fatih Erel
JENEWA
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin mengakui "kurang mengecam dan kondisi Dewan Keamanan yang lumpuh" menyusul serangan kimia mematikan di Douma, Suriah, yang dilaporkan membunuh puluhan warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak.
Pasukan rezim Assad meluncurkan serangan di distrik Douma, Ghouta Timur pada Sabtu tengah malam, menggunakan gas beracun yang membunuh setidaknya 78 warga sipil, menurut organisasi pertahanan sipil White Helmets.
"Laporan yang menunjukkan sekali lagi kemungkinan terjadinya serangan kimia mematikan di Suriah pada Sabtu menunjukkan kelemahan respon internasional terhadap serangan-serangan sebelumnya yang dilakukan di Suriah," kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra'ad Al Hussein dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin.
Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat pada Senin terkait Suriah menyusul serangan di Douma itu.
"Kata-kata tanpa makna, kecaman yang lemah, dan Dewan Keamanan yang dilumpuhkan oleh sistem veto. Dunia ini - dan khususnya negara-negara yang menggunakan hak veto di Dewan Keamanan - harus bangun, dan segera bangun, untuk melihat kerusakan parah yang terjadi di salah satu panggung internasional yang bisa mengenalikan persenjataan dan mencegah penderitaan manusia," lanjutnya.
Pada 24 Februari lalu, Dewan Keamanan menerapkan Resolusi 2401, yang menghimbau gencatan senjata selama sebulan di Suriah - khususnya di Ghouta Timur - untuk membolehkan saluran bantuan kemanusiaan.
Namun rezim Assad bulan lalu tetap meluncurkan serangan darat - didukung oleh Rusia - dengan tujuan menguasai wilayah oposisi di Ghouta Timur.
Area itu mengalami blokade selama lima tahun terakhir, sehingga 400.000 penduduknya tidak bisa menerima bantuan kemanusiaan.