Michael Hernandez
04 Desember 2024•Update: 09 Desember 2024
WASHINGTON
Utusan khusus PBB untuk Suriah Geir Pedersen memperingatkan bahwa negara yang dilanda perang itu berada dalam periode baru yang "sangat tidak menentu dan berbahaya" karena kelompok bersenjata terus mengklaim wilayah dari pasukan rezim.
Pedersen mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa kelompok bersenjata kini menguasai wilayah yang menampung sekitar 7 juta orang saat mereka maju di barat laut, merebut pusat regional utama Aleppo dan bergerak menuju Hama.
"Pasukan pemerintah Suriah telah berkumpul kembali dan membentuk garis pertahanan di Hama, memukul mundur beberapa pejuang. Namun, saat saya berbicara kepada Anda siang ini, garis pertahanan ini sedang diuji dengan keras, dengan HTS dan kelompok oposisi bersenjata menguasai wilayah hari ini, bergerak maju sangat dekat ke Hama – kota besar dengan penduduk sekitar 1 juta orang," kata Pedersen.
Dia merujuk pada Hayat Tahrir al-Sham, kelompok teroris yang ditetapkan oleh PBB yang tumbuh dari afiliasi al-Qaeda di Suriah tetapi memutuskan hubungan dengannya pada tahun 2017.
Pedersen mengatakan serangan udara "pro-pemerintah" telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, menghantam sasaran sipil dan militer dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di pihak Suriah. HTS dan kelompok bersenjata lainnya juga telah meluncurkan serangan roket dan pesawat nirawak yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di pihak sipil, imbuhnya, khususnya Hama dan Aleppo.
"Kita perlu de-eskalasi dan ketenangan. Saya mengimbau semua pihak untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional untuk melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil serta mengizinkan perjalanan yang aman bagi warga Suriah yang melarikan diri dari kekerasan. Namun, Tuan Presiden, ini saja tidak cukup. Eskalasi militer lebih lanjut berisiko menimbulkan pengungsian massal dan jatuhnya korban sipil," kata Pedersen.
"Kita harus meredakan ketegangan dan memastikan pendekatan kooperatif untuk melawan kelompok teroris yang terdaftar. Namun – dan ini adalah pesan inti kedua saya – de-eskalasi perlu disertai dengan cakrawala politik yang kredibel bagi rakyat Suriah," imbuh dia.
Bentrokan meletus pada 27 November antara pasukan rezim Assad dan kelompok bersenjata anti-rezim di pedesaan barat Aleppo di Suriah utara, menandai eskalasi ulang pertempuran setelah periode relatif tenang dalam konflik yang telah melanda Suriah selama hampir 14 tahun.
Rusia, pendukung utama rezim Suriah, mengecam serangan antirezim tersebut, dengan mengatakan serangan tersebut telah mengakibatkan kematian sedikitnya 30 warga sipil.
"Kami mengutuk keras serangan terkoordinasi oleh teroris HTS yang menguasai Idlib, yang dapat mengganggu stabilitas situasi di tanah Suriah," ujar Vasily Nebenzya, utusan Moskow untuk PBB, kepada dewan.
"Musuh akan dikalahkan, terlepas dari dukungan eksternal apa pun yang diberikan kepada mereka, dan memang ada dukungan eksternal semacam itu. Menurut laporan dan informasi yang tersedia, dukungan untuk teroris diberikan oleh Amerika dan sekutunya dalam berbagai tingkatan," tambahnya.
Robert Wood, perwakilan AS dalam pertemuan dewan tersebut, dengan tegas membantah adanya keterlibatan Amerika dalam permusuhan yang sedang berlangsung, dengan mengatakan bahwa Washington "tidak ada hubungannya dengan" serangan anti-rezim tersebut. Ia menegaskan bahwa dewan harus menuntut "agar semua pihak menghentikan serangan udara yang brutal dan mematuhi hukum internasional."
"Kita juga harus memperbarui tuntutan Dewan ini agar rezim tersebut tidak melancarkan serangan senjata kimia, seperti yang telah dilakukannya lebih dari 50 kali selama konflik ini, dan kita harus terus meminta pertanggungjawaban rezim dan para pendukungnya atas tindakan keji ini," tambahnya.
Wood mengatakan AS "akan membela dan melindungi personel AS dan posisi militer AS di timur laut Suriah, yang tetap penting untuk memastikan ISIS tidak akan pernah bangkit kembali."