Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 Maret 2020•Update: 03 Maret 2020
ANKARA
PBB menyerukan perlindungan warga sipil di tengah meningkatnya kekerasan yang menggusur hampir 56.000 orang di Somalia selatan.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa, mengatakan laporan awal menunjukkan bahwa hingga 9.000 rumah tangga (sekitar 56.000 orang) telah mengungsi di Gedo, Negara Bagian Jubaland.
Perpindahan itu disebabkan oleh pertikaian antara pihak-pihak yang terlibat konflik di wilayah tersebut sejak awal Februari.
"Semua upaya harus dilakukan untuk meminimalisasi bahaya bagi warga sipil dan kerusakan pada sekolah, pusat kesehatan dan rumah-rumah," kata Koordinator Kemanusiaan untuk Somalia Adam Abdelmoula.
Abdelmoula juga mendesak semua pihak untuk mengambil langkah yang diperlukan guna melindungi warga sipil dan aset sipil di tengah meningkatnya kekerasan.
Pernyataan itu dirilis sehari setelah 10 orang terbunuh dan beberapa lainnya cedera dalam bentrokan antara pasukan militer dan gerilyawan di barat daya Somalia.
Menurut OCHA, sekitar 2,6 juta orang saat ini mengungsi di Somalia sebagai akibat dari konflik yang berkelanjutan dan guncangan iklim yang berulang. Pada 2019 saja, ada sekitar 190.000 orang mengungsi.
Pada Januari 2020, sekitar 35.000 orang dilaporkan mengungsi di Somalia, termasuk 28.000 orang yang melarikan diri dari rasa tidak aman.
Somalia, yang terletak di Tanduk Afrika dan berbatasan dengan Ethiopia di barat dan Teluk Aden di utara telah mengalami sejumlah serangan teror selama dua dekade terakhir.
Kelompok Somalia yang berafiliasi dengan al-Qaeda, al-Shabaab, mengklaim bertanggung jawab atas sebagian besar serangan bunuh diri di negara itu.
Desember lalu, hampir 90 orang tewas dan lebih dari 150 lainnya terluka akibat bom truk bunuh diri di Ibu Kota Mogadishu.