Maria Elisa Hospita
31 Januari 2019•Update: 31 Januari 2019
Yusuf Ozcan
PARIS
Salah satu tokoh pemrakarsa gerakan Rompi Kuning Prancis pada Rabu mengumumkan bahwa dia akan meninggalkan Prancis jika pemerintah tidak mengadopsi langkah-langkah ekonomi baru untuk meringankan beban rakyat Prancis.
Lewat sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial, Maxime Nicolle berpendapat bahwa langkah-langkah yang diambil pemerintah Perancis "tidak memadai".
Nicolle mengatakan bahwa dia akan meminta suaka di negara di mana ekstradisi dilarang dan akan meminta bantuan dari negara anggota PBB.
Dia bertekad akan turun ke jalan lagi pada Sabtu untuk memprotes kebijakan ekonomi dan politik pemerintah.
Pekan lalu, Nicolle ditangkap di Bordeaux karena memelopori dan berpartisipasi dalam aksi protes, dan kemudian dibebaskan.
Aksi protes
Sejak 17 November, ribuan demonstran yang mengenakan rompi kuning di beberapa kota besar di Prancis, termasuk Paris, memprotes kenaikan pajak bahan bakar Presiden Emannuel Macron yang kontroversial dan memburuknya situasi ekonomi.
Demonstran menggelar protes dengan memblokir jalan-jalan, serta pintu masuk dan keluar ke pom bensin dan pabrik di seluruh negeri.
Di bawah tekanan massa, Macron pun mengumumkan kenaikan upah minimum dan membatalkan kenaikan pajak.
Sedikitnya 10 orang tewas, sekitar 6.000 lainnya ditahan, dan lebih dari 2.000 terluka akibat unjuk rasa yang berubah ricuh.