ANKARA
Muslim Rohingya telah menghadapi penderitaan sejak militer Myanmar memulai pembersihan etnis pada 25 Agustus.
Serangan terhadap pos-pos perbatasan di negara bagian Rakhine barat di Myanmar pada 25 Agustus menewaskan 89 orang termasuk 12 petugas keamanan.
Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah sebuah komisi yang dipimpin oleh mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan mendesak pemerintah untuk mengakhiri pembatasan terhadap Muslim Rohingya di Rakhine.
Setelah penyelidikan sepanjang tahun, komisi tersebut menyerukan "tindakan mendesak dan berkelanjutan di sejumlah bidang untuk mencegah kekerasan, menjaga perdamaian, mendorong rekonsiliasi dan memberikan harapan kepada penduduk yang terkena tekanan negara".
Turki mengutuk serangan mematikan itu, Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan bahwa "masalah di negara bagian Rakhine tidak dapat diselesaikan melalui kekerasan".
Pernyataan tersebut juga mengatakan bahwa terjadinya serangan tersebut terjadi bersamaan dengan dirilisnya laporan Komisi Penasehat untuk Rakhine yang dipimpin Kofi Annan sangat menyedihkan.
---HRW melaporkan pemerkosaan
Pasukan militer Myanmar telah melakukan sejumlah pemerkosaan sebagai bagian dari kampanye pembersihan etnis terhadap Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine, menurut laporan Human Rights Watch pada bulan November.
Organisasi tersebut mewawancarai 52 perempuan dan gadis Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh, 29 di antara mereka termasuk tiga anak perempuan berusia di bawah 18 tahun mengaku telah diperkosa. Banyak wanita menggambarkan bagaimana mereka menyaksikan pembunuhan anak, pasangan, dan orang tua mereka, menurut laporan tersebut.
Seorang korban berusia remaja mengatakan, tentara menelanjanginya dan menyeretnya dari rumah untuk kemudian diperkosa oleh 10 tentara.
---Ibu Negara Turki mengunjungi kamp pengungsian
Ibu Negara Turki Emine Erdogan dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada 7 September mengunjungi kamp-kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh yang menjadi tempat berlindung Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Rakhine.
Ibu Negara dan Menlu Turki membagikan bantuan kepada pengungsi Muslim Rohingya di sebuah kamp pengungsian di dekat perbatasan Myanmar.
Pada awal September, pemerintah Myanmar setuju untuk mengizinkan badan bantuan pemerintah Turki, Badan Koordinasi dan Bantuan Turki (TIKA) untuk melakukan operasi bantuan dan memasuki negara bagian Rakhine.
Diikuti oleh lembaga Turki lainnya, termasuk Direktorat Penanggulangan Bencana dan keadaan Darurat (AFAD), Bulan Sabit Merah Turki dan Yayasan Bantuan Kemanusiaan IHH.
Mereka membagikan tenda, makanan, obat-obatan, selimut, pemanas, peralatan dapur, pakaian dan bahan-bahan yang diperlukan untuk mendirikan tempat berlindung.
---Myanmar dan Bangladesh sepakati pemulangan pengungsi
Pada 23 November, Myanmar dan Bangladesh menandatangani sebuah kesepakatan untuk pemulangan Muslim Rohingya dari Bangladesh.
Pengaturan mengenai pemulangan pengungsi Rakhine tersebut ditandatangani setelah pertemuan selama dua hari di ibu kota Myanmar.
Kelompok hak asasi terkemuka dan perwakilan Muslim Rohingya menyuarakan keprihatinan atas kurangnya pengamatan internasional mengenai pemulangan pengungsi Rohignya ke Myanmar. Mereka khawatir pengungsi akan dipulangkan ke negara bagian Rakhine yang bermasalah.
---Kunjungan Paus Francis
Paus Fransiskus mengunjungi daerah tersebut pada awal Desember. Paus Francis meminta hak semua kelompok etnis Myanmar dihormati, namun para aktivis HAM kecewa karena paus tidak secara langsung menyebutkan Muslim Rohingya yang dianiaya.
Dalam sebuah pidato di ibukota Myanmar Nay Pyi Taw, dia menyoroti penderitaan rakyat Myanmar yang sedang berlangsung "akibat konflik sipil dan permusuhan".
Francis tidak menyebutkan tentang Rohingya atau tindakan keras di Rakhine, yang telah dikutuk oleh PBB dan Amerika Serikat sebagai "pembersihan etnis".
Kunjungan Perdana Menteri Turki
Perdana Menteri Turki Binali Yildirim berkunjung ke Bangladesh selama dua hari pada tanggal 20 dan 21 Desember.
Selama kunjungannya di kamp pengungsi Mainnaghota, Yildirim mendesak agar dilakukan kampanye global untuk Muslim Rohingya
Yildirim, didampingi Wakil Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag, membagikan bahan makanan kepada para pengungsi Rohingya dan mainan kepada anak-anak.
Dia juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Bangladesh atas upaya, dukungan, dan kerja sama mengenai isu Rohingya.
Menurut PBB, sejumlah 656.000 orang yang kebanyakan adalah anak-anak dan perempuan telah melarikan diri ke Bangladesh sejak pasukan Myanmar melancarkan tindak kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada 25 Agustus.
Sedikitnya 9.000 Rohingya tewas di negara bagian Rakhine sejak 25 Agustus hingga 24 September, menurut Dokter Lintas Batas.
Dalam sebuah laporan yang dirilis pada 12 Desember, organisasi kemanusiaan global menyatakan bahwa kematian 6.700 orang Rohingya disebabkan oleh kekerasan. Di antaranya termasuk 730 anak di bawah usia 5 tahun.