Muhammad Abdullah Azzam
30 Desember 2020•Update: 31 Desember 2020
Bilal Guler
ANKARA
Peristiwa yang terjadi pada tahun 2020 memperdalam krisis yang sedang berlangsung di Iran, yang mengalami masa-masa sulit akibat sanksi Amerika Serikat (AS) selama beberapa tahun terakhir.
Pada 2020, ribuan orang Iran tewas karena pandemi virus korona dan beberapa krisis sosial dan politik yang semakin meningkatkan isolasi internasional terhadap Iran.
Pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani
Peristiwa paling mengejutkan tahun ini bagi Iran adalah pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani pada awal Januari lalu.
Soleimani tewas bersama Abu Mahdi al-Muhandis, wakil pemimpin milisi Hashd al-Shaabi Irak atau Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) dalam serangan udara drone AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari tahun ini.
Soleimani, yang disebut "martir yang hidup" oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, adalah orang kunci dalam menentukan kebijakan regional Teheran.
Pada 5 Januari, Iran mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi memenuhi komitmen apa pun di bawah kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani dengan negara kekuatan dunia.
Pada 7 Januari, setidaknya 56 pelayat tewas dan 213 lainnya terluka dalam peristiwa desak-desakan selama pemakaman Soleimani di Iran.
Pada 8 Januari, Iran menyerang pangkalan udara Ain al-Asad yang menampung pasukan AS dan koalisi dengan puluhan rudal.
Sementara otoritas Iran mengklaim bahwa setidaknya 80 tentara AS tewas, namun Washington membantah adanya korban dalam serangan itu.
Pada hari yang sama, sebuah pesawat penumpang tipe Boeing 737 milik Ukraina jatuh di dekat Teheran, menewaskan 167 penumpang dan sembilan awak pesawat di dalamnya.
Upaya melawan Covid-19 dan sanksi AS
Iran tengah berjuang untuk mengatasi pandemi sejak Februari 2020, ketika kasus pertama dikonfirmasi di kota Qom.
Iran mengkonfirmasi total 54.814 kematian akibat virus dan lebih dari 1,2 juta infeksi sejauh ini.
Lebih dari 5.200 pasien masih berada dalam kondisi kritis, sementara jumlah orang yang pulih melampaui 960.700.
Di negara dengan populasi 83 juta itu, lebih dari 7,4 juta orang telah dites terkait virus hingga saat ini.
Ketika situasi negara memburuk karena pandemi Covid-19, pejabat Iran lebih mendesak Washington untuk mencabut sanksi terhadap negara mereka.
Saat AS menolak tuntutan Iran untuk mencabut sanksi, para pejabat Iran menuduh Washington melakukan "teror ekonomi dan kesehatan" terhadap negara itu.
Pejabat Iran berulang kali mengatakan bahwa negara tersebut tidak dapat membeli vaksin Covid-19 dan pasokan medis dari luar negeri karena sanksi tersebut.
Pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh
Pada 27 November, Iran mengumumkan bahwa ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh, 63, dibunuh setelah mobilnya menjadi sasaran serangan berencana di pinggiran kota Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan Israel "kemungkinan besar terlibat" dalam pembunuhan ilmuwan itu.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei juga menyerukan tindakan balasan terhadap para pembunuh Fakhrizadeh.
Pada 1 Desember, parlemen Iran mengadopsi rencana untuk lebih mengurangi komitmen Iran di bawah kesepakatan nuklir 2015 sebagai tanggapan atas pembunuhan Fakhrizadeh. Rencana tersebut mengharuskan pemerintah untuk melanjutkan pengayaan uranium 20 persen dan meningkatkan persediaan uranium yang diperkaya rendah (LEU).
Meski mendapat tentangan keras, badan pengawas tertinggi Iran pada 2 Desember menyetujui rencana tindakan parlemen untuk melawan sanksi AS dengan mempercepat program nuklirnya.
Dewan Penjaga, sebuah badan dengan mandat konstitusional yang diberdayakan untuk memeriksa undang-undang, menyetujui rencana yang diharapkan dapat meredam upaya pemerintah baru-baru ini untuk membuka saluran komunikasi dengan pemerintah AS yang baru untuk kembali ke pakta nuklir 2015.
Peristiwa paling positif bagi Iran pada tahun 2020 adalah kemenangan Presiden terpilih Joe Biden dalam pemilihan presiden AS, yang menandakan kembalinya kesepakatan nuklir antara AS dengan Teheran.