Meryem Goktas, Jeyhun Aliyev dan Fatih Hafiz Mehmet
ANKARA
Pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi bukan hanya masalah Turki tetapi problem seluruh dunia, kata presiden Turki Sabtu.
Berbicara pada konferensi pers di KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, Recep Tayyip Erdogan mengatakan Turki tidak pernah melihat pembunuhan Khashoggi sebagai masalah politik.
"Bagi kami, insiden ini adalah pembunuhan kejam dan akan tetap demikian," kata Erdogan.
Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Pemerintah Saudi mengubah ceritanya tentang pembunuhan itu, pertama-tama mengingkari hal itu terjadi, kemudian menyarankan bahwa itu tidak disengaja dan akhirnya merujuknya sebagai operasi jahat.
Turki telah menyerukan ekstradisi para pembunuh untuk diadili di Turki di mana kejahatan itu terjadi.
Pemimpin Turki mengatakan bahwa Ankara mengerahkan semua upaya sejak awal pembunuhan brutal Khashoggi.
Meskipun ada penolakan berulang dari pihak berwenang Saudi, pembunuhan itu terungkap berkat "pendirian" Ankara, tambahnya.
Dia menekankan bahwa baik dunia Islam maupun komunitas internasional tidak akan puas sampai semua yang bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis tersebut terungkap.
Erdogan mengatakan Turki tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Arab Saudi atau keluarga kerajaan Saudi.
"Kami percaya bahwa itu juga akan menjadi kepentingan Arab Saudi untuk mengklarifikasi semua aspek pembunuhan dan mengadili semua pelaku," kata presiden.
Situasi di Yaman
Untuk situasi di Yaman, Erdogan mengatakan krisis di negara yang dilanda perang itu harus segera diselesaikan.
"Rasa sakit orang-orang Yaman harus diselesaikan sesegera mungkin. Kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial dan persatuan Yaman pasti harus dilindungi," Erdogan menekankan.
Diperkirakan 8,4 juta orang di Yaman berada dalam risiko kelaparan yang parah dan lebih dari 22 juta orang, atau 75 persen dari populasi, membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Yaman yang miskin telah didera konflik sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota, Sanaa.
Konflik meningkat pada 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Arab Sunni meluncurkan kampanye militer yang bertujuan untuk mengembalikan mengalahkan Houthi. Perang telah mengakibatkan ekonomi runtuh dan wabah kolera yang mempengaruhi lebih dari 1,1 juta orang.
Riyadh telah berulang kali menuduh Huthi bertindak sebagai kekuatan proksi untuk Iran, musuh Arab Saudi di kawasan itu.
'Bersihkan timur Eufrat dari PKK / YPG'
Beralih ke situasi timur sungai Eufrat di Suriah utara, Erdogan mengatakan Turki akan membersihkan timur Eufrat di Suriah utara dari kelompok teror PKK / YPG dalam waktu dekat.
"Kami tidak akan mengizinkan struktur apa pun di Suriah utara yang menjadi ancaman bagi keamanan negara dan wilayah kami," tegasnya.
YPG / PKK teroris saat ini menempati sekitar 28 persen wilayah Suriah.
Turki telah melancarkan dua operasi ke Suriah yaitu “perisau Eufrat” dan “ranting zaitun” yang sukses membebaskan wilayah perbatasan Turki dari teroris YPG/PKK dan Daesh.
Turki sudah berusaha mengatasi teror PKK yang mengakibatkan sekitar 40.000 ribu orang meninggal, selama lebih dari 30 tahun. PKK terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa , sedangkan YPG adalah cabang mereka di Suriah.
Kebijakan Agresif dari Siprus Yunani
Sementara untuk masalah Siprus, Erdoga mengatakan Turki akan tetap mengambil langkah-langkah yang diperlukan selama Siprus Yunani melanjutkan "kebijakan agresif" mereka mengabaikan hak-hak dasar Siprus Turki.
Erdogan mengatakan Turki tidak akan mengizinkan pengambilalihan hak Siprus utara pada sumber daya hidrokarbon di Mediterania timur.
Pulau Mediterania timur telah terbagi sejak 1974, ketika kudeta Siprus Yunani yang penuh kekerasan terjadi di pulau tersebut,.
Negosiasi atas Siprus dilanjutkan setelah “Rencana Annan” yang didukung PBB pada 2004 untuk menyatukan kembali komunitas Siprus Turki dan Siprus Yunani.
Status pulau masih belum terselesaikan meskipun ada serangkaian diskusi yang dilanjutkan pada Mei 2015.
Telah ada proses perdamaian yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir, inisiatif terbaru terjadi di Crans-Montana, Swiss di bawah naungan negara penjamin Turki, Yunani dan Inggris, namun gagal pada tahun lalu.