Muhammad Nazarudin Latief
08 Januari 2019•Update: 08 Januari 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah Myanmar meminta militer menumpas pemberontakan Tentara Arakan, di negara bagian Rakhine, Senin, dikutip dari thedailystar.net.
Juru bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay mengatakan pemimpin pemerintah Myanmar Aung San Suu Kyi sudah membahas serangan gerilyawan terhadap polisi Myanmar dalam pertemuan dengan kepala militer. Pemerintahannya menyerukan pasukan bersenjata untuk "menghancurkan" pemberontak.
"Kantor presiden telah menginstruksikan militer untuk melancarkan operasi untuk menumpas para teroris," Zaw Htay mengatakan pada konferensi pers di ibukota, Naypyitaw.
Pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak Tentara Arakan di negara bagian barat Rakhine telah menempatkan ribuan orang dalam pengungsian sejak awal Desember, menurut PBB.
Tentara Arakan menginginkan otonomi yang lebih besar bagi Rakhine, dengan kelompok etnis Rakhine yang mayoritas beragama Budha.
Keamanan wilayah itu berantakan setelah militer pada 2017 bertindak keras pada kelompok milisi muslim. Kejadian ini memicu ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri ke barat menuju negara tetangga Bangladesh.
Menurut Zaw Htay, Suu Kyi, Presiden Win Myint dan anggota kabinet lainnya bertemu dengan para pemimpin militer, termasuk kepala militer Min Aung Hlaing, wakilnya dan kepala intelijen militer, untuk membahas "urusan luar negeri dan keamanan nasional".
Serangan Arakan Army menewaskan 13 polisi dan melukai sembilan orang lain. Milisi ini menyerang empat pos polisi pada hari Jumat, ketika Myanmar merayakan Hari Kemerdekaan.
Zaw Htay menggambarkan Arakan Army sebagai "organisasi teroris" dan mengatakan pihaknya mengejutkan pasukan keamanan yang berjaga-jaga terhadap gerilyawan Rohingya.
Menurutnya Arakan Army akan membuat stabilitas kawasan terganggu selama bertahun-tahun mendatang. Dia juga memeringatkan penduduk untuk tidak memberikan dukungan.
"Apakah mereka ingin melihat siklus kekerasan yang berlangsung selama beberapa dekade?" dia berkata.
"Aku ingin memberi tahu orang-orang Rakhine yang mendukung (Tentara Arakan): Jangan berpikir tentang dirimu, tetapi pikirkan tentang generasi selanjutnya."
Pemerintah Myanmar telah memerangi berbagai kelompok pemberontak etnik minoritas tak lama setelah kemerdekaan dari Inggris pada 1948, meskipun beberapa telah mencapai kesepakatan gencatan senjata.