Fatih Erel
15 November 2017•Update: 16 November 2017
Fatih Erel
JENEWA, Swiss
Lembaga migrasi PBB pada Selasa memperingatkan adanya perdagangan manusia, eksploitasi dan pelecehan seksual di antara pengungsi Rohingya di Bangladesh.
"Lelaki, perempuan dan anak-anak yang putus asa direkrut dengan tawaran palsu bekerja di bidang perikanan, bisnis kecil, atau pekerjaan domestik," jelas juru bicara Organisasi Intrernasional untuk Migrasi (IOM) Joel Millman mengatakan pada konferensi pers di Jenewa.
Sejak 25 Agustus, lebih dari 617.000 warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, melarikan diri dari kekerasan militer Myanmar, kata Millman.
PBB mengatakan jumlah total populasi Rohingya di Cox's Bazaar, Bangladesh mencapai 830.000.
"Banyak yang dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mereka inginkan. Misalnya, sejumlah perempuan muda dijanjikan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, tapi ternyata dipaksa menjadi pekerja seks," jelas Millman.
Dia juga mengatakan sejumlah pengungsi diangkut keluar Bangladesh.
Pengungsi-pengungsi Rohingya itu melarikan diri dari operasi keamanan yang membunuh, menjarah rumah, dan membakar desa Rohingya.
Menurut Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hasan Mahmood Ali, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam aksi kekerasan tersebut.
Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan meningkat atas serangan yang membunuh puluhan orang pada kekerasan komunal pada 2012.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak — pemukulan brutal, dan penghilangan oleh petugas keamanan.
Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.