Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Ilmuwan-ilmuwan independen dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (Organization for the Prohibition of Chemical Weapons/OPWC) membenarkan pada Kamis bahwa gas saraf Novichok digunakan dalam serangan di Salisbury, Inggris, pada 4 Maret untuk menyerang mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya.
Badan penjaga penggunaan senjata kimia internasional ini berkata analisis dilakukan terhadap sampel yang dikumpulkan dari Sergei Skripal, Yulia Skripal dan detektif Nick Bailey -- petugas polisi yang turut terkena gas tersebut saat melakukan penyelamatan darurat -- dan membenarkan penyelidikan Inggris atas penyebab kejadian ini.
Senjata kimia yang digunakan di Salisburi termasuk zat yang "sangat murni", ujar OPWC.
Sebelumnya, Inggris menyatakan bahwa para ahli yang bekerja di pusat penelitian pertahanan Porton Down menyimpulkan bahwa zat beracun kelas militer yang dipakai dalam serangan ini termasuk dalam kelompok senjata kimia yang dikembangkan oleh Rusia dan diberi nama Novichok.
Menanggapi temuan OPCW, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson berkata, "Kremlin harus memberikan jawaban."
"Dami kepentingan transparansi, dan karena tidak seperti Rusia, kami tidak menyembunyikan apapun, kami telah meminta OPCW untuk merilis hasil penelitian mereka sehingga semua orang bisa melihat dan membagikannya ke semua negara anggota OPCW, termasuk Rusia," ujar Johnson melalui pernyataan tertulis.
"Kami akan bekerja tanpa lelah dengan partner-partner kami untuk membantu menghentikan penggunaan senjata-senjata semacam ini dan kami juga meminta Dewan Eksekutif OPCW untuk bersidang pada Rabu depan untuk membahas langkah-langkah selanjutnya. Kremlin harus memberikan jawaban."
Skripal, 66 tahun, dan putrinya, 33 tahun, dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tak sadarkan diri di sebuah bangku umum pada 4 Maret di Salisbury.
"Skripal dan putrinya diracuni dengan zar saraf militer yang dikembangkan Rusia, lebih spesifik, dari kelompok Novichok," kata Perdana Menteri Inggris Theresa May setelah penyelidikan oleh para ahli di Inggris.
Insiden ini segera dibanding-bandingkan dengan kematian mantan agen KGB Alexander Litvinenko pada 2006 karena meminum teh berisi bahan radioaktif. Mantan bodyguard KGB yang disangka melakukan pembunuhan ini menyangkal keterlibatannya.
Setelah lebih dari sebulan dirawat, Yulia Skripal diperbolehkan pulang dari rumah sakit, menurut pernyataan rumah sakit yang merawatnya pada Kamis.
Salisbury Distric Hospital berkata Sergei Skripal saat ini masih dalam perawatan, namun kondisinya terus menunjukkan kemajuan.
Sergei Skripal diberikan suaka oleh Inggris setelah program pertukaran mata-mata AS dan Rusia pada 2010. Sebelum pertukaran ini, Skripal menghuni sel penjara Rusia selama 13 tahun karena membocorkan informasi kepada badan intelijen Inggris.
Menyusul insiden tersebut, sejumlah negara di dunia turut mengusir 121 diplomat Rusia dari negaranya, setelah Inggris menendang 23 diplomat Rusia.
NATO dan Uni Eropa diketahui mendukung Inggris dan mengutuk serangan ini.
news_share_descriptionsubscription_contact



