Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan negaranya harus menetapkan "waktu penerapan" ketika meninggalkan Uni Eropa pada Maret 2019 nanti.
Dalam pidatonya di hadapan parlemen Inggris, May mengatakan kedua pihak, Inggris dan UE, tidak akan siap dengan kondisi yang baru dan oleh karena itu Inggris menginginkan masa transisi - selama kira-kira dua tahun - untuk mencegah perubahan yang terlalu cepat untuk komunitas bisnis.
Inggris mengingingkan model yang "kreatif" untuk masa depan dan pemerintah menolak model yang sedang berjalan ini, seperti keanggotaan Inggris di Zona Ekonomi Eropa (EAA), kata May dalam pidatonya. Statemen May ini juga menandai dimulainya ronde kelima negosiasi keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau "Brexit".
May mencari "kemitraan yang unik dan ambisius" dengan UE setelah Brexit. Dia juga mengatakan kepada anggota parlemen bahwa "kemajuan tidak selalu mudah" namun Inggris bisa "membungkam para kritik".
Mengulang pidatonya di Firenze bulan lalu dimana dia memastikan proses pembayaran kepada UE dan hak-hak penduduk, May mengatakan "keputusan sekarang berada di tangan UE".
"Saat ini kami sedang menapaki langkah-langkah berikutnya dan keputusan berada di tangan mereka. Namun saya optimisis kami akan menerima respon positif," kata May menanggapi juru bicara Komisi UE yang mengatakan keputusan berada di pihak Inggris.
Kesepakatan yang saling menguntungkan
"Yang kami cari sekarang adalah kesepakatan yang terbaik bagi Inggris dan juga terbaik bagi rekan-rekan Eropa kami," jelas May.
"Ini bukan hal yang mudah. Proses perundingan dilakukan secara bertahap dan sejauh ini belum terdapat solusi untuk langkah pertama, yaitu proses perpisahan, jadi keputusan sepenuhnya di pihak Inggris sebelum kami bisa melangkah maju," ungkap juru bicara Komisi UE Margaritis Schinas.
Inggris bersikeras perundingan Brexit telah mengalami kemajuan sehingga bisa maju ke tahap berikutnya untuk merundingkan hubungan Inggris dan UE di masa depan.
Sedangkan petinggi-petinggi UE mengatakan bahkan setelah negosiasi tahap keempat dirampungkan bulan lalu, mereka belum mencapai kemajuan yang cukup untuk mendiskusikan tahap berikutnya. Namun mereka juga memuji pidato May di Firenze dan mengatakan itu adalah sebuah langkah yang baik.
Sementara itu pemimpin oposisi Jeremy Corbyn mengkiritik pemerintah Inggris atas kebuntuan yang dihadapi perundingan Brexit. Dia menyayangkan bahwa setelah delapan bulan telah berlalu pun "pemerintah belum mengalami kemajuan yang signifikan".
Pemimpin parlement Partai Nasional Skotlandia (SNP) Ian Blackford juga mengkritik pidato May yang menurutnya gagal menunjukkan niat Inggris tetap bergabung dengan pasar tunggal dan serikat pabean Eropa. Pemimpin partai SNP Nicola Sturgeon juga mengatakan proses Brexit menyebabkan Inggris "mengalami kekacauan".
Sturgeon menambahkan proses Brexit ini semakin mendorong rakyatnya agar berpisah dari Inggris. Namun dia tidak akan merencanakan referendum kebebasan Skotlandia dari Inggris hingga perundingan Brexit mencapai titik jelas.
Perundingan Brexit yang kelima ini akan berakhir pada Kamis setelah membicarakan antara lain hak-hak penduduk dan komitmen finansial .
Inggris diperkirakan akan keluar dari Uni Eropa pada Maret 2019, setelah 44 tahun berada dalam organisasi supranasional tersebut.
news_share_descriptionsubscription_contact

