Nani Afrida
17 November 2019•Update: 18 November 2019
Yusuf Ozcan
PARIS
Setahun berlalu, para demonstran Rompi Kuning kembali turun ke jalan di Prancis pada hari Sabtu untuk memprotes kebijakan Presiden Emmanuel Macron.
Para demonstran Rompi Kuning mengorganisir banyak demonstrasi di berbagai tempat di negara itu, terutama di ibu kota Paris.
Polisi menggunakan semprotan merica untuk membubarkan demonstran yang berkumpul di lingkungan Champerret di Paris dan memblokir jalan.
Sebanyak 164 pengunjuk rasa ditangkap selama protes pada Sabtu, kata polisi Paris.
Kepala departemen kepolisian Didier Lallement menyerukan pengunjuk rasa untuk meninggalkan jalan jalan dan mengancam insiden kekerasan akan ditanggapi dengan keras.
Thierry Paul Valette, salah satu pemimpin demonstran Rompi Kuning, juga termasuk di antara mereka yang ditangkap.
Sementara 71 orang didenda karena mengadakan demonstrasi di daerah terlarang.
Demonstrasi di kota-kota lain
Para pengunjuk rasa memasuki pusat kota di Lyon, mengabaikan larangan demonstrasi.
Ketegangan antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa meningkat. Polisi menggunakan semprotan merica untuk membubarkan para demonstran.
Polisi melarang aksi protes di Champs-Elysees dan sekitar Katedral Notre-Dame yang rusak parah setelah kebakaran pada bulan April.
Aksi Rompi Kuning dimulai pada 17 November 2018 sebagai reaksi terhadap kenaikan biaya bahan bakar dan ketidakadilan ekonomi, tetapi kemudian meningkat menjadi kerusuhan anti-pemerintah yang mematikan.
Para pengunjuk rasa memutuskan untuk menggunakan rompi kuning, bagian dari kit keselamatan standar di mobil Prancis, untuk membuat anggota mereka lebih mudah terlihat.
Demonstrasi itu menewaskan 11 orang dan lebih dari 4.000 orang terluka, termasuk pengunjuk rasa dan polisi, menurut pemerintah Prancis.
Aktivis mengklaim bahwa 24 pengunjuk rasa kehilangan mata dan lima kehilangan tangan
Paling tidak sekitar 8.400 orang telah ditangkap sejak awal protes Rompi Kuning, dan sekitar 2.000 orang ditahan.
Sebanyak 17 peserta aksi ditangkap di Toulouse dan lima orang, termasuk dua polisi dan tiga warga sipil, terluka.