Shadi Khan Saif
KABUL, Afghanistan
Wawancara yang dilakukan dengan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif yang menyebut keterlibatan dan campur tangan Teheran di Afghanistan telah memicu kontroversi di negara itu.
Berbicara kepada penyiar berita swasta Afghanistan Tolo, Menlu Iran Zarif menyebut sekitar 2.000 warga Afghanistan bertempur bersama pasukan pro-rezim Suriah di bawah brigade Fatemiyoun, milisi Syiah yang didukung oleh Teheran.
"Di Suriah, kami mendukung mereka di bawah kepemimpinan Hafiz Bashar Assad. Dia membuat keputusan dan kami melaksanakannya. Di Afghanistan, kami siap untuk mendukung mereka [Fatemiyoun] di bawah kepemimpinan pemerintah Afghanistan [dalam perang melawan Daesh],” kata Menlu Iran itu.
Menanggapi sebuah pertanyaan, Zarif mengatakan kepada Tolo News bahwa Taliban telah melakukan banyak tindakan teroris, dan mereka belum menghapus Taliban [dari daftar] kelompok teroris.
Menteri luar negeri Iran mengklaim Teheran tidak memasok senjata ke Taliban dan juga tidak merawat militan mereka yang terluka.
Taliban melalui sebuah pernyataan menentang keras perkataan Menlu Iran itu.
“Imarah Islam [Taliban] tidak ada dalam daftar teror PBB dan komentar Menteri Luar Negeri Iran dalam hal ini didasarkan pada informasi yang salah. Kami mendesak pejabat Iran untuk tidak memperburuk kondisi Afghanistan dengan pernyataan tidak bertanggung jawab seperti itu,” kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahed.
Penulis dan pengamat politik Afghanistan, Syed Iqbal, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pandangan Zarif itu cukup sejalan dengan sikap pemerintah Afghanistan dalam perundingan perdamaian yang bermasalah.
“Ini tidak diragukan lagi seperti banyak negara kawasan. Iran juga terlibat dalam perang proxy yang sedang berlangsung di sini, tetapi sejauh isu yang menyangkut pemerintah Afghanistan, satu-satunya bagian yang kontroversial [dalam wawancara] adalah komentar Zarif tentang Fatemiyoun," kata Iqbal kepada Anadolu Agency.
Komentar Zarif datang saat Penasihat Keamanan Nasional pemerintah Afghanistan Hamdullah Muhib mengunjungi Teheran sebagai bagian dari rencana penjangkauan regional pemerintah Kabul untuk perdamaian di negara yang dilanda perang itu.
Graan Hewad, juru bicara Kementerian Luar Negeri di Kabul, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pemerintah Afghanistan memiliki 'pandangan yang berbeda'.
"Konstitusi, kepentingan nasional dan kebijakan luar negeri Afghanistan tidak mengizinkan warga Afghanistan, yang diharapkan berada di bawah bendera nasional, untuk memasuki perang regional dan konflik di berbagai negara," kata Hewad.
Human Rights Watch (HRW) dua tahun lalu menuduh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran merekrut anak-anak imigran Afghanistan yang tinggal di Iran untuk berperang di Suriah untuk pasukan rezim.
HRW dalam sebuah laporan mencatat bahwa anak-anak Afghanistan di Iran seusia 14 tahun telah bertempur di divisi Fatemiyoun, sebuah kelompok bersenjata eksklusif Afghanistan yang didukung oleh Iran yang berperang bersama pasukan pemerintah dalam konflik Suriah.
Badan pengawas HAM tersebut sebelumnya mendokumentasikan kasus-kasus pengungsi Afghanistan di Iran yang "mengajukan diri" untuk berperang di Suriah dengan harapan mendapatkan status hukum bagi keluarga mereka.
news_share_descriptionsubscription_contact

