İqbal Musyaffa
13 Maret 2018•Update: 13 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pertemuan IMF- World Bank di Bali akan membahas beberapa hal termasuk pembangunan negara miskin.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati seusai rapat koordinasi panitia nasional pertemuan IMF-World Bank di Jakarta, Selasa, mengatakan dalam pertemuan tersebut World Bank akan membahas peningkatan modal untuk pembiayaan pembangunan negara-negara miskin tersebut.
Selain itu, pertemuan tersebut juga akan fokus membahas pengembangan sumber daya manusia terkait perubahan teknologi yang pesat agar setiap negara dapat menyesuaikan diri untuk bisa bersaing.
"Sedangkan IMF akan fokus pada pengaruh efek arus teknologi pada setiap negara seperti yang pernah disampaikan Direktur Pelaksana Dana Moneter IMF Christine Lagarde saat kunjungan ke Indonesia lalu," ungkap Menteri Sri.
Menteri Sri juga menambahkan, agenda pembahasan juga akan mengarah pada pengaruh digitalisasi ekonomi dan perdagangan daring (online) yang tentu menuntut penyesuaian dari sisi perpajakan maupun kepabeanan.
Dalam pertemuan rutin tahunan kedua lembaga internasional tersebut, Menteri Sri menegaskan bahwa bukan hanya Indonesia yang ingin mendapat manfaat. Oleh karena itu, juga akan diselipkan agenda pertemuan dengan petinggi Asean.
Khusus untuk Indonesia, Menteri Sri berharap tidak hanya akan terjadi transaksi investasi dalam kegiatan tersebut, tetapi juga di masa-masa mendatang.
"Pembahasan investasi tidak harus dipertemuan rutin saja bisa terjadi transaksi. Prinsipnya kita bangun posisi karena saat ini pun sudah banyak yang tertarik untuk berinvestasi. Apalagi setelah Indonesia diupgrade nilai investasinya," imbuh Mantan Direktur Bank Dunia tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menambahkan saat ini Indonesia tidak akan lagi membahas kondisi ekonomi Indonesia yang sudah baik.
“Seluruh dunia sudah tahu itu,” aku dia.
Dalam pertemuan nanti, menurut dia, pemerintah akan langsung menyerahkan data proyek yang dapat dibiayai dengan perhitungan bunga hingga pengembaliannya kepada investor.
"Tidak hanya proyek tetapi juga refinancing, blended financing, dan lainnya," urai Menteri Luhut.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menambahkan, pertemuan rutin tahunan pelaku keuangan dunia ini secara substansi juga akan fokus memberi perhatian pada pertumbuhan ekonomi dunia agar kuat dan inklusi.
Dengan begitu, potensi resiko terhadap perekonomian global dapat diantisipasi dengan baik.
"Kita juga akan libatkan asosiasi untuk bisa merespon hal ini dengan baik. Nantinya ada 2.000-3.000 site meeting," ujar dia.
Pertemuan tahunan tersebut akan berlangsung sejak 8-14 Oktober dengan agenda utama berlangsung di tanggal 12-14 Oktober. Pemerintah mengklaim telah siap untuk menjadi tuan rumah yang baik dalam pertemuan tersebut.