Alpha Kamara
DAKAR, Senegal
Enam dari 10 negara dengan tingkat pernikahan anak tinggi berada di wilayah Afrika Tengah dan Barat, di mana dalam satu hari saja hingga 20.000 anak-anak perempuan dikawinkan secara tidak sah, jelas sebuah laporan yang dirilis Senin.
Dilihat secara global, 15 juta anak-anak perempuan dinikahkan secara paksa per tahun, lanjut mereka. Data itu dijabarkan pada pertemuan regional tingkat tinggi di Dakar untuk merundingkan insiden pernikahan anak di wilayah itu.
Pertemuan regional yang dikepalai Perdana Menteri Senegal Mohammed Abdallah Dionne, dihadiri oleh tiga ibu negara, menteri-menteri perempuan, dan aktivis hak anak dengan tujuan memperketat hukum guna menekan jumlah pernikahan dini.
Ibu-ibu negara yang hadir antara lain adalah Sia Nyama Koroma dari Sierra Leone, Bella Sika Kabore dari Burkina Faso, dan Marieme Faye Sall dari Senegal.
Pertemuan itu sendiri diselenggarakan oleh UNICEF, UNFPA, Save the Children dan Plan International. Anak-anak perempuan juga diundang untuk berbagi pengalaman mereka di negara masing-masing.
Ibu Negara Sierra Leone mengatakan negaranya memiliki salah satu insiden pernikahan anak tertinggi di dunia karena terikat dengan budaya lokal.
"Perang, wabah Ebola, dan longsor yang terjadi baru-baru ini juga berkontribusi pada masalah itu," kata Koroma. Di situasi seperti itu, lanjut dia, orang tua memaksa anak perempuan mereka menikah agar bisa bertahan hidup.
"Prioritas saya dan pemerintah adalah melihat semua perempuan mendapatkan pendidikan agar mencapai potensial mereka dan boleh menikah setelah siap dan dewasa," jelas Koroma.
Negara-negara dengan tingkat perkawinan anak tertinggi di Afrika antara lain adalah Niger, Chad, Mali, Burkina Faso, Guinea, Republik Afrika Tengah, Nigeria, dan Sierra Leone. Pemerintah di negara-negara tersebut telah berkomitmen untuk mengakhiri praktik tersebut melalui penerapan hukum.
news_share_descriptionsubscription_contact
