Elena Teslova
23 Januari 2018•Update: 23 Januari 2018
Elena Teslova
MOSKOW
Di tengah memburuknya situasi di wilayah Ghouta Timur, kepala delegasi oposisi Suriah mengatakan bahwa keselamatan warga sipil harus jadi prioritas utama.
"Situasi di Ghouta Timur telah menimbulkan kekhawatiran serius, dan tiga bulan terakhir adalah situasi terburuk di wilayah tersebut," kata Nasr al-Hariri, kepala oposisi, Komite Negosiasi Tinggi (HNC), saat pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke Moskow.
"Kami meminta semua pihak untuk memprioritaskan keselamatan warga sipil - di Ghouta Timur, Idlib, Raqqa, Afrin - terlepas dari hal-hal yang harus kita lakukan dalam memberantas terorisme," ujar al-Hariri.
Al-Hariri mengatakan, meskipun zona aman diberlakukan di Suriah, masih ada banyak wilayah di mana gencatan senjata tidak berlaku.
Mengenai kemungkinan apakah delegasi opisisi akan berpartisipasi dalam Kongres Dialog Nasional Suriah (SNDC) di Sochi, Rusia, al-Hariri mengatakan bahwa belum ada keputusan akhir mengenai hal ini.
"Kami tidak akan membuat keputusan akhir mengenai SNDC hingga kami memiliki informasi yang jelas mengenai tujuannya, yang tentunya harus kami diskusikan terlebih dahulu dengan mitra internasional kami dan PBB," jelas dia.
Dia menambahkan bahwa pengepungan pasukan oposisi di Suriah menjadi alasan pertimbangan utama dalam berpartisipasi di SNDC.
Ghouta Timur, rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, berada dalam situasi pengepungan selama lima tahun, menyebabkan ratusan orang darurat perawatan medis.
Dalam delapan bulan terakhir, rezim Bashar al-Assad telah mengintensifkan pengepungan, sehingga hampir tidak mungkin menyalurkan bantuan makanan atau obat-obatan ke distrik tersebut.
Distrik itu berada dalam zona de-eskalasi - yang dijamin oleh Turki, Rusia dan Iran - di mana tindakan agresi dilarang keras.
Suriah telah dirundung konflik sejak awal 2011, ketika rezim Assad menyerang aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi dengan brutal.