Rhany Chairunissa Rufinaldo
17 Oktober 2019•Update: 18 Oktober 2019
Abdullah Asiran
DEN HAAG
Perdana Menteri Belanda mengatakan aliansi NATO tidak bisa "sukses" tanpa anggota lamanya Turki.
Menjawab pertanyaan anggota parlemen tentang operasi anti-teror Turki di timur laut Suriah pada Rabu malam, Mark Rutte mengatakan klaim bahwa NATO akan lebih baik tanpa Turki bukanlah klaim yang cerdas.
"Turki adalah salah satu anggota NATO terkuat. Saya tidak berpikir bahwa NATO dapat berhasil tanpa Turki secara geopolitik atau strategis," tegas Rutte.
Turki bergabung dengan NATO sejak 1952 dan memiliki kekuatan militer terbesar kedua di aliansi tersebut, setelah Amerika Serikat.
Ankara meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada 9 Oktober untuk mengamankan perbatasannya untuk mengusir unsur-unsur teroris dan memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman serta menjaga integritas wilayah Suriah.
Menurut Turki, kelompok teroris PKK dan cabangnya YPG/PYD merupakan ancaman terbesar bagi masa depan Suriah, yang membahayakan integritas teritorial dan struktur kesatuan negara.
Selama lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.