JAKARTA
Sebagai Ketua ASEAN, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha kemarin meminta negara-negara anggota mempercepat rencana pembangunan berkelanjutan saat berbicara sidang ke-74 Majelis Umum PBB (UNGA).
Jenderal Prayut mendesak kemitraan perdagangan regional dan partisipasi publik yang lebih besar, serta upaya untuk melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan dalam masyarakat yang menua.
"Jika kita ingin mewariskan dunia yang berkelanjutan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita, tidak ada waktu untuk disia-siakan. Karena itu, kita harus bertindak sekarang, bertindak cepat, dan melakukan lebih banyak hal bersama dalam kemitraan," katanya pada KTT Sustainable Development Goals, Rabu seperti diberitakan Bangkok Post.
Jenderal Prayut mengatakan ASEAN harus mempercepat implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan meningkatkan konektivitas, mengatasi ketidaksetaraan melalui sains dan teknologi, dan melindungi lingkungan, terutama melalui penggunaan sumber daya alam yang bertanggung jawab dan mengurangi polusi laut.
Menurut dia, ASEAN perlu "melokalkan" SDG, menjaga tujuan tetap relevan dengan mendorong partisipasi lokal, memberdayakan masyarakat dengan memperluas akses keuangan dan menyesuaikan inisiatif terkait dengan kebutuhan masyarakat yang menua.
Dia juga menyerukan kerja sama yang lebih besar dalam mempromosikan perdagangan bebas melalui inisiatif regional seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dan Jaringan Kota Cerdas.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Don Pramudwinai mengatakan blok itu akan meluncurkan Pusat Studi Pembangunan Berkelanjutan dan Dialog Asean di KTT Asean ke-35, pada bulan November di Bangkok.
Pusat ini akan menjadi platform regional pertama yang bertugas mempromosikan pembangunan berkelanjutan di ASEAN.
ASEAN juga akan segera membuka Asean Centre for Active Ageing and Innovation/Pusat Penuaan dan Inovasi ASEAN serta Asean Training Centre for Social Work and Social Welfare/Pusat Pelatihan Asean `untuk Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial.
Sementara itu, Kantor Berita Thailand (TNA) pada Rabu melaporkan sekelompok pengunjuk rasa yang berkumpul di depan hotel Jenderal Prayut di New York ternyata adalah orang Meksiko dan Peru.
Para pengunjuk rasa mengakui bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang Thailand, tetapi berdemonstrasi mendukung demokrasi, lapor TNA.
"Kami datang secara terpisah. Kami ingin melihat hak asasi manusia dan kebebasan yang lebih baik untuk semua negara," seorang pemrotes, yang mengatakan kelompok itu adalah "ekspatriat yang tinggal di AS", pada Bangkok Post.
news_share_descriptionsubscription_contact
