Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
03 Februari 2020•Update: 03 Februari 2020
James Tasamba
KIGALI, Rwanda
Prancis mengumumkan rencananya untuk mengerahkan 600 tentara tambahan ke Afrika Barat.
Dalam sebuah pernyataan, Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan sebagian besar bala bantuan akan ditempatkan di perbatasan antara Mali, Burkina Faso dan Niger.
"Presiden telah mengambil keputusan untuk meningkatkan jumlah pasukan yang dikerahkan di jalur Sahel-Sahara menjadi sekitar 5.100 tentara, bertambah 600 tentara," kata Parly.
Parly mengatakan Chad juga diperkirakan akan segera mengerahkan batalion tambahan ke pasukan gabungan G5 Sahel di wilayah perbatasan.
"Bala bantuan harus memungkinkan kita untuk meningkatkan tekanan terhadap organisasi teroris ISS [di Sahara Besar] yang bertindak atas nama Daesh. Kami tidak akan memberikan ruang bagi mereka yang ingin mengacaukan Sahel," tambah dia.
Prancis saat ini mempertahankan kekuatan militer kuat dengan 4.500 pasukan di seluruh Afrika Barat dan Tengah.
Militan telah melancarkan serangan berulang terhadap pasukan lokal di Mali dan Niger, yang telah meluas ke Burkina Faso.
Presiden Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini bertemu dengan pemimpin Mali, Burkina Faso, Chad, Niger dan Mauritania untuk membahas masalah keamanan pada pertemuan puncak di Pau, Prancis.
KTT itu menyepakati pendekatan baru untuk menyatukan pasukan dalam "Koalisi untuk Sahel" untuk memerangi gerilyawan di wilayah Sahel.
Dalam deklarasi bersama, mereka menegaskan kembali tekad untuk berjuang bersama melawan kelompok-kelompok teroris.
Wilayah Sahel di Afrika Barat adalah rumah bagi banyak kelompok teroris, termasuk al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) dan Daesh/ISIS.