Muhammad Abdullah Azzam
08 Juli 2020•Update: 08 Juli 2020
Serife Cetin
BRUSSELS
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE) Josep Borrell dalam kunjungannya baru-baru ini ke Ankara membahas hubungan bilateral dan perkembangan kawasan.
Dalam kunjungan itu, Borrell membahas tentang ketegangan baru-baru ini antara Turki dan Prancis soal klaim pelecehan kapal di Laut Mediterania.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, "Kami telah membuktikan semua yang terjadi dan UE dan NATO tidak dapat membuktikan, sebaliknya. Prancis belum jujur. Oleh karena itu, Prancis harus meminta maaf kepada Turki dan menyampaikan permintaan maaf mereka ke UE dan NATO."
Prancis kini beralih ke Uni Eropa untuk mencari dukungan menyudutkan Turki, negara itu mendesak negara-negara anggota lainnya untuk mendukung klaim Prancis.
Ketika situasi di Libya berubah dengan cepat setelah perjanjian Turki dengan pemerintah Libya yang diakui secara internasional, Presiden Prancis Emmanuel Macron mulai terganggu dengan kekalahan Khalifa Haftar di Libya.
Para diplomat Prancis menggunakan taktik serupa seperti yang mereka lakukan tahun lalu menjelang pertemuan NATO di London untuk krisis Suriah, membocorkan informasi perencanaan pertahanan rahasia aliansi itu kepada pers, bertujuan untuk menekan Turki.
Demikian pula, dalam beberapa minggu terakhir, Prancis menyebarkan informasi palsu kepada pers yang mengklaim bahwa angkatan laut Turki melecehkan kapal perang Prancis di Mediterania Timur.
Turki memberikan bukti yang kuat bahwa tuduhan Prancis itu tak mendasar, kapal perang Prancis bahkan diberi bahan bakar oleh pihak Turki atas permintaan mereka.
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengumumkan bahwa pihaknya akan menyelidiki insiden itu "untuk memberikan kejelasan penuh atas apa yang terjadi".
Media internasional melaporkan bahwa hasil yang diinginkan Prancis tidak akan muncul dalam laporan NATO terkait insiden tersebut.
Tak dapat menemukan apa yang diharapkannya dari NATO, Prancis menunda keikutsertaannya ke operasi Sea Guardian, dan mengalihkan matanya ke platform UE.
-Prancis mencari dukungan Uni Eropa
Uni Eropa, yang mengabaikan hak-hak sah Turki dan Republik Turki Siprus Utara di Mediterania Timur karena "solidaritas keanggotaan" blok itu dengan Yunani dan Siprus Yunani, memberikan dukungan yang dibutuhkan Prancis.
Dengan upaya Prancis itu, Turki dimasukkan ke dalam agenda pembahasan Dewan Luar Negeri UE yang akan diselenggarakan pada 13 Juli mendatang.
Sementara itu, Parlemen Eropa pada Kamis besok akan membahas "stabilitas dan keamanan di Mediterania dan peran negatif Turki".
-Perjuangan politik Macron
Sikap agresif Presiden Prancis Emmanuel Macron terhadap Turki dianggap lebih terkait dengan kepentingan politik dalam negerinya sendiri daripada kebijakan Ankara, mengingat betapa retorika anti-Turki lebih disukai oleh kalangan sayap kanan.
Sejak Macron menempati posisi kepresidenan tiga tahun lalu, negara tersebut tergoncang dengan meluasnya aksi protes yang memperdalam masalah ekonomi dan sosial.
Macron juga berhadapan dengan ketidakstabilan politik ketika Perdana Menteri negara itu Edouard Philippe mengundurkan diri minggu lalu, bersama dengan menteri lainnya.
Hasil dari pemilu kepala daerah juga mengindikasikan dia tidak bisa menciptakan kekuatan politik di negara itu.
Macron, yang baru-baru ini terpukul keras dalam hal kepentingan ekonomi dan politik, tampaknya membutuhkan lebih banyak dukungan dari Uni Eropa pada periode mendatang.