BAKU
Turki melakukan apa pun untuk memacu perkembangan di Nagorno-Karabakh setelah Azerbaijan membebaskan wilayahnya dari pendudukan pasukan Armenia selama hampir tiga dekade, kata Duta Besar Turki untuk Azerbaijan Cahit Bagci.
Memuji kemenangan Azerbaijan pada peringatan tahun pertama pembebasan Karabakh, Cahit Bagci mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Azerbaijan mencapai kemenangan setelah perjuangan yang adil di wilayah Kaukasus Selatan.
"Azerbaijan mengamankan kemenangan yang terbukti sulit dipahami [di Karabakh]. Negara ini berjuang dan berhasil mempertahankan integritas teritorialnya. Ini adalah kemenangan yang diberkati dan mulia," katanya.
Menceritakan bagaimana kehidupan di Karabakh mulai kembali normal hanya dalam waktu satu tahun, Bagci mengatakan Turki melakukan semua yang bisa dilakukan untuk membantu wilayah yang dibebaskan itu pulih.
Turki telah membuat janji terbuka untuk menyediakan semua sarana kapasitas kelembagaan, pengalaman dalam sektor publik dan swasta ke Azerbaijan, dan terus melakukannya," tutur dia.
Dia juga memuji Anadolu Agency atas upaya selama perang tersebut, dengan mengatakan bahwa suatu kehormatan Anadolu Agency ada di setiap program dan di mana pun [di dunia.]"
Pembebasan Karabakh
Hubungan antara bekas republik Soviet di Armenia dan Azerbaijan telah tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan.
Bentrokan meletus pada 27 September 2020, di mana tentara Armenia menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan dan melanggar beberapa perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.
Selama konflik 44 hari, Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan 300 pemukiman dan desa yang diduduki oleh Armenia selama hampir 30 tahun.
Sebelumnya, sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan berada di bawah pendudukan ilegal Armenia.
Pertempuran berakhir dengan kesepakatan yang ditengahi Rusia pada 10 November 2020, dan gencatan senjata dianggap sebagai kemenangan bagi Azerbaijan dan kekalahan bagi Armenia.
Dua bulan kemudian, para pemimpin Rusia, Azerbaijan dan Armenia menandatangani pakta untuk mengembangkan hubungan ekonomi dan infrastruktur untuk memberi manfaat bagi seluruh wilayah.