Hajer M'tiri
24 Mei 2018•Update: 25 Mei 2018
Hajer M'tiri
PARIS
Keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan menerapkan sanksi keras baru terhadap negara itu akan menempatkan kawasan Iran dalam risiko yang lebih besar, kata menteri luar negeri Prancis, Rabu.
"Kami percaya bahwa semua sanksi anti-Iran tidak akan berkontribusi pada dialog. Sebaliknya, mereka akan membantu memperkuat posisi konservatif di Iran, melemahkan posisi Presiden Rouhani, yang ingin terlibat dalam dialog," ujar Jean-Yves Le Drian dalam sebuah siaran radio.
"Pada akhirnya, sikap [AS] ini hanya akan menimbulkan risiko yang lebih besar di kawasan ini," tambah dia.
Diplomat tinggi Prancis itu mengatakan bahwa Eropa menentang sanksi AS dan akan menciptakan mekanisme untuk menghadapi pembatasan yang diberlakukan oleh Washington.
Komentar Le Drian tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Washington akan memberikan "sanksi terkuat dalam sejarah" jika Iran gagal mematuhi ketentuan kesepakatan baru untuk menggantikan perjanjian nuklir yang disepakati antara Teheran dan kelompok P5 + 1 (lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman) pada 2015.
Pada 8 Mei, Presiden AS Donald Trump menarik partisipasi Washington dari kesepakatan dan mengumumkan pengenaan sanksi kembali.
Le Drian juga menyebutkan adanya risiko konflik baru akibat perang Suriah yang sedang berlangsung dan krisis nuklir Iran.
"Jika kebetulan sesuatu terjadi di sana, mungkin sengaja atau mungkin juga tidak, dapat menyebabkan eskalasi," kata dia, mengacu pada roket yang ditembakkan dari "pangkalan militer Iran yang berbasis di Suriah" pada 10 Mei ke Dataran Tinggi Golan Israel.
Mengenai seruan Rusia ke pasukan asing untuk mundur dari Suriah, Le Drian berharap untuk mendapatkan klarifikasi mengenai pasukan dari negara mana yang dimaksud.
"Pernyataan itu tidak jelas. Proses perdamaian dihalangi, dan Rusia sama sekali tidak peduli dengan situasi yang semakin memburuk," tambah Le Drian.
Pada Kamis, Presiden Prancis Emmanuel Macron bersiap untuk melakukan kunjungan resmi selama dua hari ke St. Petersburg atas undangan dari Presiden Rusia Vladimir Putin.