Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 Juni 2019•Update: 25 Juni 2019
Beyza Binnur Donmez
ANKARA
Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin mengatakan bahwa presiden Amerika Serikat harus mengklarifikasi posisinya soal Uni Eropa.
"Yang pasti adalah kami memiliki beberapa ambiguitas, terutama ketika Anda melihat posisi [Donald] Trump mengenai Brexit, dan fakta bahwa dia mempromosikan Brexit yang kaku," kata Macron dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh majalah New Yorker.
"Saya pikir dia harus mengklarifikasi posisinya terkait Eropa," tambah dia.
Menekankan soal meningkatnya ancaman sayap kanan di Eropa, Macron mengatakan bahwa itu tidak mempengaruhi pemilihan Parlemen Eropa seperti yang sebelumnya diperkirakan.
"Beberapa bulan yang lalu, banyak orang berpikir bahwa koalisi baru sayap kanan ini bisa merebut mayoritas atau memblokir mayoritas di Parlemen Eropa, yang kemudian tidak terjadi. Bagi saya, ini adalah salah satu hasil positif dari pemilu," ujar Macron.
Menuduh bahwa aktor-aktor sayap kanan menerima dukungan dari berbagai sumber asing, Macron mengatakan dia melihat Trump dan pemerintahannya sebagai salah satu dari kekuatan itu.
Sebelumnya secara terpisah, Macron mengatakan bahwa dia akan membahas peningkatan ketegangan antara AS dan Iran dengan Trump selama KTT G20 pekan ini di Jepang.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah Trump menarik diri dari perjanjian nuklir antara Teheran dan kelompok negara-negara P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman).
Namun, terlepas dari kampanye "tekanan maksimum" AS di Iran dengan berbagai sanksi baru, negara-negara maju di UE - Jerman, Prancis, dan Inggris - terus mendukung perjanjian nuklir 2015 dengan Teheran.
Sebagai bagian dari kampanyenya, AS memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak mentah Iran, yang telah menghancurkan perekonomian Teheran.