31 Juli 2017•Update: 01 Agustus 2017
Diyar Guldogan
ANKARA
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Minggu bahwa 755 diplomat AS sudah harus meninggalkan Rusia.
“Ribuan pekerja AS—diplomat dan pekerja teknis—telah bekerja dan sedang bekerja di Rusia. 755 orang sudah menghentikan aktivitas mereka di Rusia,” kata Putin dalam sebuah interview dengan website berita Rusia Vesti.ru, menurut kantor berita Rusia TASS.
Pernyataan Putin dikeluarkan menyusul keputusan Senat AS untuk menyetujui sanksi baru pada Rusia, Irak dan Korea Utara. Rancangan undang-undang (RUU) akan diserahkan kepada President Donald Trump, yang sudah memberikan isyarat kalau presiden kemungkinan melakukan veto, meskipun RUU itu akan disetujui oleh mayoritas anggota senat.
Langkah-langkah ini diambil sebagai sanksi pada otoritas Rusia dalam mengintervensi pemilihan presiden AS tahun 2016 lalu.
Kata Putin, pihak AS mengambil langkah-langkah tanpa provokasi yang akan memperburuk hubungan bilateral kedua negara, sambil menambahkan kalau dia percaya prilaku AS ke Rusia tidak akan “serta merta” berubah.
Menurut Putin, Moskow tidak punya keinginan untuk mendiamkan aksi-aksi AS “tanpa jawaban”, dan dapat juga mempertimbangkan opsi lain. “Tetapi saya berharap tidak akan ada opsi lain, saya menolak itu sampai hari ini,” katanya.
Presiden Rusia mengatakan Moskow dan Washington telah bekerja sama dalam sektor-sektor “yang sangat” penting termasuk dalam hal pengurangan senjata pembunuh massal dan perang melawan terorisme.
Putin menyebut penciptaan zona pengurangan ketegangan di Suriah menjadi langkah kongkrit dari kerja sama kedua negara.
“Kita cuma dengar tuduhan-tuduhan tidak berdasar dari kementerian dalam negeri AS,”dia menambahkan.
Mengikuti langkah AS, Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan langkah-langkah untuk melakukan konter terhadap RUU sanksi Amerika pada Rusia.
Langkah-langkah yang diambil termasuk mengurangi jumlah pegawai AS di semua kantor diplomatik dan konsulat di Rusia, menjadi 455 orang.