Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 Juli 2020•Update: 04 Juli 2020
Aydogan Kalabalik
ISTANBUL
Pernyataan pedas Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi tentang situasi di Libya menambah dimensi baru pada krisis yang sedang berlangsung.
Bulan lalu, Sisi mengatakan bahwa pangkalan udara Libya Sirte dan al-Jufra adalah garis merah dan dia akan mempersenjatai suku-suku Libya di negaranya untuk berperang di barisan panglima pemberontak Khalifa Haftar.
Dia juga menyarankan bahwa Kairo bisa meluncurkan misi militer eksternal ke Libya jika diperlukan dan setiap intervensi langsung di Libya sah secara hukum internasional.
Sisi berencana untuk memukimkan suku-suku badui asal Libya, yang tinggal di barat laut Mesir, di negara asalnya dan untuk meningkatkan kepadatan populasi di bagian timur negara itu.
Namun, permusuhan historis di antara suku-suku asal Libya menunjukkan bahwa rencana Sisi tidak mungkin diimplementasikan.
Suku asli Libya di Mesir
Ada banyak suku asal Libya di Mesir. Yang terbesar dikenal sebagai suku Awlad Ali dengan populasi lebih dari satu juta.
Suku ini bermigrasi dari Libya ke Mesir 130 tahun yang lalu. Perang yang terjadi pada 1860 antara Awlad Ali dan suku-suku Abidat di wilayah Brega Libya berlangsung selama 30 tahun.
Awlad Ali harus bermigrasi ke Mesir pada 1890 setelah mereka kalah perang. Migrasi paksa ini disebut Tejridet Habib, cerita rakyat dalam budaya Libya.
Sebagian besar anggota Awlad Ali menetap di kota Mesir Marsa Matruh, yang terletak di antara Kota Alexandria di Pantai Mediterania Mesir dan dan Distrik al-Sellum di perbatasan Libya.
Koeksistensi kedua suku ini dianggap sebagai kemungkinan yang lemah karena alasan historis.
Uni Emirat Arab dan Mesir berencana untuk mengganti posisi Haftar dengan Aguila Saleh Issa, ketua Dewan Perwakilan Rakyat pro-Haftar di Kota Tobruk.
Namun, Issa, yang mendukung Haftar, berasal dari suku Abidat.
Kemungkinan dukungan suku Awlad Ali kepada Haftar bisa berarti bahwa mereka mendukung suku Abidat yang mengasingkan leluhur dari tanah mereka.
Oleh karena itu, suku Awlad Ali, yang sebagian besar tinggal di daerah dekat perbatasan Libya, diperkirakan tidak akan mengirim anggotanya ke Libya untuk bertarung di barisan Haftar.
Perbedaan pendapat
Suku asli Libya lainnya yang tinggal di Mesir adalah Beraisa, Fevayid, Henadi, Furcan, Behce, Jamiat, Katan, Jabaliye, Rimah, Habbun, Syaikh Awlad, Jalalat, Mekabira dan Al-Jawazi.
Pasha Yusuf Karamanli (1795-1832), nama paling terkenal dari Dinasti Karamanli yang memerintah Tripoli dari 1711 hingga 1835, mengasingkan suku Al-Jawazi ke Mesir.
Menurut sumber-sumber Mesir, anggota suku Al-Jawazi kebanyakan tinggal di Kota Zagazig dan Tanta di timur laut Mesir.
Anggota suku Al-Jawazi tidak melihat diri mereka sebagai orang Badui karena mereka terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat Mesir.
Sebaliknya, mereka kebanyakan menggambarkan diri mereka sebagai orang Mesir.
Suku asli Libya mungkin akan menahan diri untuk tidak terlibat dalam perang di Libya dengan mendukung Haftar, karena langkah ini berarti membantu suku-suku yang mengasingkan leluhur mereka dari tanah air mereka.