Muhammad Abdullah Azzam
13 Maret 2018•Update: 13 Maret 2018
Adham Kako, Mohamad Misto
ANKARA
Dengan target merebut wilayah Ghouta Timur dari kelompok oposisi, rezim Bashar al Assad beserta pendukungnya melancarkan operasi pembelahan wilayah Ghouta Timur menjadi tiga bagian, Senin.
Rezim Assad memulai operasi darat pada 3 Maret untuk mengambil alih Ghouta Timur, meskipun PBB telah mengumumkan gencatan senjata selama 30 hari.
Pasukan rezim melancarkan operasi pembelahan Ghouta Timur dengan bergerak dari timur ke barat, menduduki kota Madyara, hingga akhirnya tiba di Distrik Harasta.
Menurut wartawan Anadolu Agency di wilayah tersebut, dengan serangan yang intens rezim Assad telah memperluas serangannya serta memblokade distrik Harasta, sehingga wilayah Ghouta Timur telah terpecah menjadi tiga bagian.
Rezim Assad membelah Ghouta Timur menjadi beberapa bagian untuk mempermudah perluasan penguasaan di wilayah tersebut.
Menurut Badan Pertahanan Sipil White Helmets, pada Senin rezim dan pendukungnya melanjutkan serangan udara dan darat ke wilayah Sakba, Jisrin dan Zamalka.
Seorang petugas pertahanan sipil gugur pada serangan di kota Jisrin.
Sebanyak 35 warga sipil tewas dalam serangan yang terjadi kemarin.
Sejak 19 Februari lalu, lebih dari 925 penduduk dilaporkan tewas dalam serangan darat dan udara yang dilancarkan oleh rezim dan sekutunya.
Bentrokan sengit tengah berlanjut di Ghouta Timur. Para kelompok oposisi melakukan perlawanan terhadap penyerangan rezim tersebut dengan taktik serang-mundur (hit-and-run).
Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putih telah memberikan instruksi untuk menerapkan jeda kemanusiaan antara pukul 09.00-14.00 waktu setempat setiap hari.
Dewan Keamanan PBB mengadopsi sebuah resolusi gencatan senjata kemanusiaan setidaknya selama 30 hari di Suriah tanpa penundaan.
Resolusi tersebut menyerukan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Suriah dan terutama evakuasi medis terhadap pasien kritis dan korban luka-luka di Ghouta Timur yang terkepung.
Ghouta Timur terletak di kawasan de-eskalasi yang disetujui oleh Turki, Rusia dan Iran. Di wilayah itu khususnya, aksi serangan dan kekerasan tidak boleh dilakukan.
Ghouta Timur, yang berada di wilayah pinggiran kota Damaskus, telah dikepung selama lima tahun terakhir dan akses kemanusiaan ke daerah tersebut, yang merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang.
Dalam delapan bulan terakhir, kekuatan rezim Assad telah mengintensifkan pengepungan Ghouta Timur mereka, sehingga hampir tidak mungkin bagi makanan atau obat-obatan masuk ke distrik tersebut dan membuat ribuan pasien butuh perawatan.