Muhammet Kursun, Abdul Jabbar Abu Ras, dan Mustafa Melih Ahishali
TEHERAN
Presiden Iran berkata negaranya mengetahui siapa di belakang serangan mematikan dalam perade militer pada Sabtu yang menewaskan setidaknya 25 orang, lapor kantor berita resmi Iran, IRNA.
"Mereka yang menyebut dirinya aktivis hak asasi manusia harus bertanggung jawab atas serangan ini," kata Hassan Rouhani kepada wartawan di Teheran pada Minggu, sebelum terbang ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-73.
"Iran tidak diragukan lagi tak akan berhenti [menyelidiki] kejahatan ini," kutip IRNA dari Rouhani.
Rouhani berkata serangan ini dilakukan oleh organisasi-organisasi yang didukung oleh mendiang Presiden Irak Saddam Hussein.
Mereka bekerja untuk Saddam di Irak saat dia masih hidup, dan setelah kematiannya mereka bekerja untuk negara lain, kata Rouhani kepada wartawan.
Rouhani berkata ada negara di Teluk yang saat ini mendukung kelompok-kelompok tersebut secara finansial, militer dan politik.
Lebih dari 60 orang juga terluka dalam serangan di Ahvaz, sebelah barat laut Iran, pada Minggu, di mana sejumlah pria berpakaian militer menembakkan peluru kepada pasukan Iran selama sekitar 10 menit.
Korban tewas dalam insiden ini termasuk seorang wanita dan seorang anak-anak, seorang jurnalis, dan beberapa anggota Garda Revolusi Iran, menurut IRNA.
Para duta besar dikumpulkan
Kementerian Luar Negeri Iran pada Minggu memanggil duta besar dari Uni Emirat Arab (UEA) setelah seorang pejabat UEA mengeluarkan komentar yang bernada mendukung serangan itu, lapor kantor berita semi-resmi Iran Fars, tanpa menyebut dengan detail bunyi komentar atau identitas pejabat itu.
Iran menyampaikan protes kerasnya soal komentar tersebut kepada perwakilan UEA, lapor Fars.
Kementerian juga memanggil duta besar dari Belanda dan Denmark ke Teheran, juga perwakilan diplomat dari Inggris, untuk menyampaikan protes keras mereka atas dugaan memberi dukungan kepada kelompok teror di balik serangan ini, tulis Fars, mengutip Juru Bicara Kementerian Bahram Qassemi yang menuduh kelompok Al-Ahvaziya Iran berada di belakang serangan tersebut.
"Bahwa Uni Eropa tidak memasukkan anggota kelompok teror ini dalam daftar hitam selama mereka tidak melakukan kejahatan di tanah Eropa adalah hal yang tidak bisa diterima," kata Qassemi seperti dikutip oleh Fars.
Qassemi menekankan bahwa duta besar Denmark dan Belanda sudah diberitahu keputusan Iran "memperingatkan pemerintah masing-masing untuk mewaspadai keberadaan teroris dari kelompok tersebut di negaranya dan meminta mereka ditangkap dan diadili," lanjut Fars.
Para perwakilan dari Denmark dan Belanda, ujar Fars, "menyatakan prihatin atas insiden ini dan berjanji mengangkat isu terkait dalam pertemuan dengan pemerintah masing-masing."
"Mereka juga mengumumkan kesiapan negaranya untuk bekerja sama dengan Iran dalam mencari pelaku dan bertukar informasi," ujar Qassami seperti dikutip dari Fars.
Iran juga berkata kepada perwakilan Inggris, fakta bahwa Al-Ahwazi diperbolehkan mengklaim serangan ini di stasiun televisi yang berbasis di London tidak dapat diterima, ujar Qassami.
Duta besar Inggris, yang sedang berada di kampung halamnnya, merilis pernyataan yang mengutuk serangan tersebut, termasuk pernyataan sama dari pejabat Kementerian Luar Negeri, kutip Fars.
Terroris tewas
Di tempat terpisah, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi berkata tiga teroris tewas di lokasi kejadian, sementara teroris keempat terluka dan tewas di rumah sakit, lapor IRNA.
Juru Bicara Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) Ramezan Sharif berkata pada Sabtu, "Serangan ini dilakukan oleh elemen kelompok Al-Ahvaziya yang didukung oleh Arab Saudi, dan bertujuan mengecilkan kekuatan pasukan bersenjata Iran dalam parade militer."
Meski begitu, pada Sabtu juga, kelompok teror Daesh mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut melalui internet.
Front Popular Demokratik Ahwazi (ADPF) atau kelompok Al-Ahwazi pada Minggu menuduh Garda Revolusi Iran melakukan serangan itu sendiri untuk menarik simpati.
Secara terpisah, otoritas Iran menutup dua perlintasan perbatasannya dengan Irak "untuk sementara", yakni Shalamjah yang berbatasan dengan Provinsi Basra di Irak dan Al-Shib yang berbatasan dengan Provinsi Maysan di Irak.