Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
31 Desember 2019•Update: 01 Januari 2020
Elena Teslova
MOSKOW
Rusia pada Senin mendesak gencatan senjata di Libya dan menganggapnya sebagai syarat dasar bagi dimulainya dialog politik.
Berbicara pada konferensi pers di Moskow, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan gencatan senjata harus terjadi tanpa persayaratan.
"Adalah kepentingan rakyat Libya untuk mengakhiri pertempuran, mendeklarasikan gencatan senjata tidak terbatas dan memulai dialog ditujukan untuk membentuk perjanjian yang akan dilaksanakan," kata Lavrov.
Dia mencatat bahwa perjanjian yang ditawarkan dari pihak luar, termasuk di konferensi di Prancis, Italia dan Uni Emirat Arab, tidak berhasil.
"Sekarang ada banyak pembicaraan tentang persiapan sebuah konferensi di Berlin. Semua ini akan mempertahankan situasi yang tidak jelas saat ini, jika para pihak tidak setuju secara khusus tentang bagaimana memastikan semua kepentingan politik, klan dan etnis di Libya diperhitungkan," ujar sang menteri.
Lavrov menambahkan bahwa ide untuk mendeklarasikan zona larangan terbang di atas Libya memiliki konotasi negatif karena pemboman negara itu dimulai setelah Dewan Keamanan PBB mengizinkan rezim semacam itu.
“Lebih baik memastikan bahwa semua pemain internasional, tanpa terkecuali, memengaruhi pihak Libya dalam satu arah - untuk segera menghentikan pertempuran, mendeklarasikan gencatan senjata yang tidak terbatas dan bernegosiasi di antara mereka sendiri dan untuk menyetujui sehingga semua ini dapat dilakukan," lanjut dia.
Lavrov juga menekankan pentingnya peran Dewan Keamanan PBB dalam mengamankan perjanjian internasional.
Pada 27 November, Ankara dan Tripoli menandatangani dua MoU, yaitu tentang kerja sama militer dan tentang batas laut negara-negara di Mediterania Timur.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.