Ivan Nganwa
07 Januari 2018•Update: 08 Januari 2018
Ivan Nganwa
KIGALI, Rwanda
Rencana kontroversial Israel yang akan mendeportasi ribuan pencari suaka Afrika dan pengungsi menemui jalan buntu setelah Rwanda memutuskan untuk keluar dari kebijakan tersebut.
Rwanda mengatakan bahwa laporan yang menyatakan Rwanda telah menyapakati kesepakatan tersebut adalah berita palsu.
Hal tersebut juga diikuti oleh Uganda yang membantah akan menerima 38 ribu warga Eritrea dan Sudan, yang sebelumnya telah mendapat ancaman dari Israel akan dideportasi atau ditahan.
“Rwanda tidak memiliki kesepatakan apapun dengan Israel untuk menerima masyarakat Afrika dari Israel. Berita ini adalah berita bohong,” ujar Menteri Luar Negeri Olivier Nduhungirehe lewat akun Twitternya.
Baik Rwanda dan Uganda sebelumnya disebut dalam beberapa media sebagai negara ketiga yang telah sepakat menampung pencari suaka untuk keuntungan ekonomi dan militer.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertemu dengan pemimpin Rwanda Paul Kagame di Nairobi bulan lalu. Kedua pihak mengatakan telah berbicara secara ekstensif mengenai kesepakatan tersebut.
Meskipun Netanyahu menyatakan akan membuka kedutaan Israel di Kigali, pembangunan yang dimulai pada Jumat agaknya malah membuat hubungan keduanya menjadi dingin.
Pada Rabu lalu, Israel mengumumkan kebijakan yang memaksa sekitar 38ribu migran, terutama masyarakat Eritrean dan Sudan, untuk meninggalkan Israel.
Aktivis Hak Asasi Manusia di Israel dan juga LSM Internasional yang bergerak di bidang Hak Asasi Manusia merasa lega bahwa keputusan Rwanda dan Uganda akan menggagalkan rencana Israel, dan mendorong Israel untuk membuat peraturan menerima para pencari suaka.
Laporan oleh Human Rights Watch mendokumentasikan Israel telah mendeportasi pencari suaka ke Rwanda dan Uganda, yang diperkuat oleh laporan dari UNHCR sebagai badan pengungsi PBB.
Para migran memiliki waktu hingga akhir Maret mendatang untuk meninggalkan Israel, menurut pemerintah Israel. Mereka disebut bakal menerima tiket pesawat dan uang sejumlah 2900 Euro.
Mereka yang menolak akan ditahan, dan Netanyhu telah meminta penasihat keamanannya untuk menyusun rencana yang akan memaksa keluar migran yang tidak memiliki dokumen.
Bagi migran yang tidak bersedia untuk pergi akan dinaikkan ke atas pesawat dengan tangan terborgol.
Pencari suaka dan pengungsi dari Afrika di Israel mengatakan mereka melarikan diri dari konflik, situasi ekonomi dan penyiksaan, serta mencari status sebagai pengungsi.
Israel telah berencana untuk menutup pusat penahanan migran di Holot dalam beberapa bulan kedepan sebagai antisipasi dari deportasi besar-besaran ke negara ketiga.
Beberapa sumber mengatakan bahwa Rwanda dan Uganda menarik diri dari kesepakatan tersebut meskipun memiliki konsekuensi diplomatik dengan Israel karena mereka lebih memilih untuk tidak menambah luka masyarakat Afrika.