Muhammad Abdullah Azzam
21 Agustus 2019•Update: 22 Agustus 2019
Adham Kako
ANKARA
Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (SNHR) mengungkapkan sedikitnya 843 warga sipil tewas dalam serangan pasukan rezim Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya ke zona de-eskalasi Idlib sejak 26 April lalu.
Laporan SNHR itu mencatat serangan rezim Assad, kelompok teroris dukungan Iran dan pasukan Rusia di Idlib dan sekitarnya antara 26 April - 19 Agustus menewaskan 843 warga sipil.
Rezim Assad menjatuhkan 3.172 kali bom barel di provinsi Idlib, daerah pedesaan di Hama dan Latakia selama periode tersebut.
Lebih dari satu juta orang mengungsi dalam empat bulan sejak pasukan rezim berupaya merebut kembali wilayah yang dikuasai pemberontak di utara Suriah, menurut PBB.
Menyusul pertemuan 17 September di Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin, keduanya sepakat membangun zona demiliterisasi - di mana tindakan agresi dilarang secara tegas - di Idlib.
Di bawah kesepakatan itu, kelompok-kelompok oposisi di Idlib diizinkan untuk tetap menempati wilayah, sementara Rusia dan Turki mulai melakukan patroli gabungan di daerah itu untuk mencegah pertempuran kembali meletus.
Sejalan dengan kesepakatan Sochi, kelompok oposisi menarik persenjataan berat mereka dari daerah tertentu di Idlib sejak 10 Oktober.
Namun rezim Suriah dan sekutu-sekutunya secara konsisten melanggar ketentuan gencatan senjata, dengan meluncurkan serangan di dalam zona de-eskalasi.
Suriah baru saja mulai keluar dari konflik dahsyat yang dimulai pada 2011 ketika rezim Assad menindak keras para demonstran dengan keganasan yang tidak terduga.
Sejak itu, puluhan ribu orang tewas dalam konflik sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi.
Saat ini zona de-eskalasi dihuni oleh 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu orang dari seluruh negara yang lelah berperang.