Maria Elisa Hospita
18 Desember 2018•Update: 19 Desember 2018
Adham Kako
ANKARA
Rezim Bashar al-Assad Suriah dan sekutunya telah memaksa sekitar 130.000 orang untuk bermigrasi - melalui serangan dan blokade sengit - dari kota-kota yang didudukinya tahun ini.
Data itu dipaparkan oleh Anadolu Agency selama peringatan Hari Migran Internasional yang jatuh pada 18 Desember.
Anadolu Agency mengatakan tahun 2018 akan diingat sebagai tahun pengungsian dan migrasi paksa bagi warga Suriah.
Meskipun daerah-daerah yang dikuasai oposisi di Damaskus, Homs, Daraa, dan Quneitra telah ditetapkan sebagai "zona de-eskalasi", hal itu tidak menghentikan serangan dan blokade rezim, yang memaksa banyak warganya meninggalkan rumah-rumah mereka.
Warga Suriah dari daerah-daerah itu dipindahkan ke kamp-kamp pengungsi di utara negara itu, di mana mereka menghadapi kondisi hidup yang sulit.
Menurut data yang dikumpulkan oleh Koordinator Intervensi Suriah, sepanjang 14 Maret - 31 Juli 2018, rezim Assad dan sekutunya telah memaksa sebanyak 128.926 orang meninggalkan rumah mereka.
80.000 jiwa tinggalkan Damaskus
Evakuasi paksa pertama kali berlangsung pada 14 Maret hingga 10 Mei 2018.
Hampir 74.000 orang di Ghouta Timur, pinggiran Damaskus, dan Qalamun Timur dekat perbatasan Lebanon (dianggap sebagai simbol perlawanan anti-rezim) dipaksa pindah ke zona aman yang dikuasai oposisi di Aleppo dan Idlib.
Sementara itu, 9.250 lainnya dipindahkan dari permukiman Yelde, Yelda, Babila, dan Beit Sham.
Jumlah warga yang meninggalkan daerah-daerah Damaskus yang dikuasai oposisi tahun ini mencapai 83.214 jiwa.
35.000 pindah dari Homs
Setelah evakuasi paksa di Damaskus selesai, rezim Suriah dan sekutunya kemudian menargetkan Kota Homs.
Selama 7-18 Mei, sebanyak 35.648 penduduk lokal meninggalkan desa-desa di utara Homs menuju daerah yang dikuasai oposisi di Idlib dan Aleppo.
Sementara itu, Daraa dan Quneitra, jatuh sepenuhnya di bawah kendali rezim setelah evakuasi warga.
Kelompok oposisi dan warga sipil yang terus menunjukkan perlawanan ke rezim Assad di Daraa dan Quneitra juga dipaksa pindah ke utara Suriah.
Lebih dari 10.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka selama 15 hingga 31 Juli.
Menurut Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), konflik Suriah yang telah berlangsung selama tujuh tahun menyebabkan sekitar 6,6 juta orang mengungsi.
*Ali Murat Alhas turut melaporkan dari Ankara