KABUL, Afghanistan
Serangan malam yang mengerikan oleh pasukan pemerintah Kabul dukungan CIA atas perang melawan terorisme merupakan mimpi buruk bagi warga sipil.
Sejumlah korban mengenang kembali detik-detik kematian pada malam mengerikan tersebut.
Masehur Rehman, 38, pengungsi yang telah kembali dari Iran, melihat seluruh keluarganya menjadi korban dalam serangan udara di provinsi Maidan Wardak.
Dengan gurat sedih yang terlihat jelas di wajahnya, Rehman mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dia akan berjuang mencari keadilan atas kematian anggota keluarganya.
"Saya kehilangan seluruh hidup saya, seluruh keluarga saya, istri saya, empat putri, tiga putra dan keponakan dalam serangan udara oleh pasukan keamanan [Afghanistan] pada Juli," ucap Rehman.
Rehman mengatakan warga di desanya masih dihantui oleh kenangan buruk dalam penyerangan pada malam itu.
Semua korban adalah anak di bawah umur, di bawah 18 tahun, kata dia.
Bulan berikutnya, serangan udara yang sama menewaskan 11 warga sipil di distrik Zurmat provinsi Paktia.
Para korban, menurut penyiar lokal Tolo News, antara lain Hayatullah, seorang pegawai Departemen Pendidikan; Mohammad Shafi, seorang guru; Ansarullah, seorang mahasiswa di Universitas Paktia.
Akhtar Mohammad, seorang mahasiswa di Universitas Kabul; Mohammad Asif, kepala sekolah Dawlat Khan di Zurmat; Inam, seorang siswa madrasah, Rahmatullah, Hekmatullah dan Nusratullah (yang bersaudara) dan Fida Mohammad, Nasrullah dan Fathullah, petani lokal di wilayah tersebut.
Akibat serangan mematkan itu, kepala intelijen Afghanistan Mohammad Masoum Stanekzai mengundurkan diri pada September lalu.
Keputusan itu dibuat dalam pertemuan keamanan darurat yang diketuai oleh Presiden Ashraf Ghani.
Ghani memerintahkan penyelidikan serangan yang telah menyebabkan empat saudara lelaki dari satu keluarga terbunuh di provinsi Nangarhar.
Tingginya jumlah korban sipil dalam operasi oleh pasukan pro-pemerintah tentu membuat terkejut banyak orang.
-Buah strategi Trump
Mohammad Arif, veteran Afghanistan dan analis pertahanan mengatakan peningkatan kekerasan ini merupakan buntut dari strategi Presiden Donald Trump di Asia Selatan yang diumumkan pada 2017.
"Strategi ini difokuskan [...] pada operasi udara baik oleh AS dan pasukan Afghanistan untuk memaksa Taliban datang ke meja perundingan," kata Arif kepada Anadolu Agency.
Ribuan warga Afghanistan di daerah-daerah yang terkena dampak seperti provinsi Kunduz, Paktika, Maidan Wardak, Ghazni, Kunar dan Nangarhar telah melakukan berbagai protes di jalan terhadap serangan udara dan darat pasukan pemerintah.
Untuk pertama kalinya sejak Misi Bantuan PBB di Afghanistan mulai membuat catatan di Afghanistan, korban sipil yang disebabkan oleh pasukan pro-pemerintah pada kuartal pertama tahun 2019 melampaui jumlah korban dari pemberontak Taliban dan pasukan anti-pemerintah lainnya.
Laporan PBB ini mencatat total 1.773 korban sipil yakni 581 tewas dan 1.192 terluka.
Jumlah korban tersebut termasuk 582 anak-anak yakni 150 tewas dan 432 terluka dalam rentang 1 Januari dan 31 Maret tahun ini.
PBB menyampaikan pasukan pro-pemerintah melakukan 43 operasi udara pada kuartal pertama 2019 yang mengakibatkan 228 korban sipil dengan rincian 145 tewas dan 83 terluka..
Sedangkan pasukan militer internasional bertanggungjawab terhadap 39 serangan udara yang mengakibatkan 219 warga sipil menjadi korban dengan rincian 140 tewas dan 79 terluka.
Para pejabat tinggi Afghanistan, termasuk Presiden Ghani, mengakui korban sipil dalam serangan malam hari.
Namun Ghani mengklaim serangan ini telah banyak merugikan kelompok pemberontak.
-Target pemimpin tinggi
Menteri Pertahanan Assadullah Khalid mengatakan kepada wartawan di Brussels pekan lalu bahwa sering kali pemberontak dan teroris seperti kepala Al-Qaeda untuk anak benua India Asim Omar dianggap sebagai 'warga sipil'.
Badan intelijen Afghanistan mengklaim bulan lalu Omar, yang merupakan warga Pakistan keturunan India, tewas bersama enam teroris lainnya di provinsi Helmand lewat serangan udara pada 23 September lalu.
Human Rights Watch (HRW) telah mendokumentasikan 14 kasus pelanggaran serius sejak akhir 2017 hingga pertengahan 2019 yang dilakukan oleh pasukan Afghanistan dukungan CIA.
Dalam sebuah laporannya yang berjudul They’ve Shot Many Like This: Abusive Night Raids by CIA-Backed Afghan Strike Forces, HRW mendesak Kabul dan Washington segera membubarkan dan melucuti semua pasukan paramiliter yang beroperasi di luar rantai komando militer biasa.
HRW juga mendesak Kabul dan Washington bekerja sama dengan tim investigasi independen atas dugaan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.
Menurut Komisi Hak Asasi Manusia Independen Afghanistan sendiri, enam bulan terakhir adalah bulan paling mematikan bagi warga sipil di Afghanistan.
Komisi Hak Asasi Manusia Independen mencatat 6.487 warga sipil menjadi korban, termasuk wanita dan anak-anak.
news_share_descriptionsubscription_contact
