Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Februari 2020•Update: 28 Februari 2020
Ibrahim Erikan, Lale Koklu Karagoz
ANKARA
Setidaknya 33 tentara Turki gugur dan puluhan lainnya cedera dalam serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad di Idlib, Suriah barat laut, Kamis malam.
"Ada [prajurit yang terluka kritis setelah serangan itu], dan mereka sedang dirawat di rumah sakit," kata Rahmi Dogan, gubernur Provinsi Hatay Turki, kepada Anadolu Agency.
Awalnya, jumlah tentara yang gugur hanya sembilan orang, tetapi meningkat menjadi 33 orang beberapa jam setelahnya.
Dogan mengatakan ada puluhan tentara lain terluka, tetapi kondisinya tidak kritis dan mereka juga sudah mendapat perawatan di rumah sakit.
Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar segera menuju ke perbatasan antara Turki dan Suriah setelah pertemuan keamanan yang dipimpin oleh Presiden Turki.
Akar dan komandan lainnya memimpin operasi dengan unit pendukung darat dan udara untuk melawan rezim Assad di Idlib dari pusat komando di Provinsi Hatay Turki, yang berbatasan dengan Suriah.
Setelah serangan itu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu berbicara dengan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg melalui telepon, tetapi tidak ada informasi lebih lanjut tentang topik diskusi.
Pada September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Tetapi, rezim dan pasukan Rusia di zona itu terus melanggar gencatan senjata dan menyebabkan lebih dari 1.300 warga sipil tewas.
Terletak di barat laut Suriah, provinsi Idlib menjadi markas kubu oposisi dan kelompok bersenjata anti-pemerintah sejak pecahnya perang sipil pada 2011.
Saat ini wilayah itu dihuni sekitar 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi dari seluruh penjuru negeri yang kehilangan tempat tinggal mereka beberapa tahun terakhir akibat serangan pasukan rezim.
Turki menampung sekitar 3,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka, menjadikannya negara penampung pengungsi paling banyak di dunia.