Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
10 Januari 2020•Update: 11 Januari 2020
James Tasamba
KIGALI, Rwanda
Setidaknya 20 orang termasuk pasukan penjaga perdamaian PBB terluka dalam serangan roket ke pangkalan militer PBB di Mali utara pada Kamis.
Juru bicara PBB Olivier Salgado mengatakan melalui akun Twitter-nya bahwa serangan terhadap pasukan Prancis dan Mali terjadi sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat di Kota Tessalit, wilayah Kidal yang berkonflik.
Menurut laporan media, enam pasukan penjaga perdamaian PBB di Mali (MINUSMA) terluka parah dan sejauh ini tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
MINUSMA mengelola lebih dari 13.000 tentara di Mali bersama pasukan Prancis yang juga beroperasi di seluruh wilayah Sahel, Afrika Barat.
Serangan terjadi sehari setelah Mohamed Ibn Chambas, kepala Kantor PBB untuk Afrika Barat dan Sahel (UNOWAS), mengatakan wilayah itu berada di tengah gelombang serangan teroris terhadap sasaran sipil dan militer.
Kidal berada di bawah kendali pemberontak Tuareg sejak pemberontakan 2012.
Chambas mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada Rabu bahwa kekerasan teroris yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mengguncang kepercayaan publik.
Dia mengatakan serangan teroris telah meningkat lima kali lipat di Burkina Faso, Mali dan Niger sejak 2016, dengan lebih dari 4.000 kematian dilaporkan pada 2019 dibandingkan dengan sekitar 770 kematian pada 2016.
Di Burkina Faso, kematian meningkat dari sekitar 80 pada 2016 menjadi lebih dari 1.800 pada 2019.
"Yang paling penting, fokus geografis serangan teroris telah bergeser ke timur dari Mali ke Burkina Faso dan semakin mengancam negara-negara pantai Afrika Barat," tegas dia.
Dia menambahkan bahwa serangan teror sering kali merupakan upaya yang disengaja oleh ekstremis brutal untuk merebut senjata dan rute perdagangan.
"Mereka juga terlibat dalam kegiatan terlarang, seperti penambangan ilegal yang menopang operasi mereka," tutur dia.
Chambas mendesak para pemimpin di wilayah itu untuk memenuhi janji mereka dalam mengatasi terorisme.
Sebuah laporan pakar PBB kepada Dewan Keamanan PBB Juli lalu mengindikasikan bahwa selama enam bulan pertama 2019, kelompok-kelompok teror telah menunjukkan peningkatan ambisi dan jangkauan di Sahel dan Afrika Barat, di mana para pejuang dari Daesh/ISIS dan al-Qaeda bekerja sama untuk melemahkan negara-negara lemah.