Maria Elisa Hospita
17 Juli 2020•Update: 17 Juli 2020
Talha Ozturk
BELGRADE, Serbia
Negosiasi antara Serbia dan Kosovo kembali berlanjut pada Kamis setelah mandek selama 20 bulan.
Presiden Serbia Aleksandar Vucic, Perdana Menteri Kosovo Avdullah Hoti, dan Representatif Khusus Dialog Miroslav Lajcak menghadiri pertemuan yang diselenggarakan di Brussel oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell.
Vucic mengatakan opsi solusi yang luar biasa ada, tetapi negosiasi akan dilanjutkan.
Dia mengatakan negosiasi itu tidak mudah, meskipun ada kemajuan pada masalah pengungsi, ekonomi, dan orang hilang.
Presiden Serbia menyatakan kesiapan negaranya untuk bekerja sama dalam menemukan lebih dari 1.600 orang hilang, masalah yang belum terselesaikan sejak perang di Kosovo selama 1998-1999.
Sementara itu, Hoti menegaskan satu-satunya solusi untuk normalisasi hubungan adalah adanya saling pengakuan antara Serbia dan Kosovo.
Dialog antara Serbia dan Kosovo dimulai pada 2011 setelah Kosovo menyatakan kemerdekaan dari Serbia pada 2008.
Karena Belgrade masih bersikeras sebagai bagian dari Serbia, Uni Eropa pun menginisiasi dialog itu.
Namun, krisis politik antara pemerintah kedua negara, dialog pun berkali-kali mandek.
Kosovo pun menetapkan bea cukai 100 persen untuk produk-produk yang diimpor dari Serbia dan Bosnia dan Herzegovina hingga Serbia mengakui kemerdekaannya.
Meskipun UE dan Amerika Serikat mendesak Kosovo untuk menarik keputusan tersebut, Kosovo terus mengabaikan seruan itu.
Awal bulan ini, Kosovo mengumumkan larangan pejabat Serbia memasuki negara itu.
Kemerdekaan Kosovo telah diakui oleh lebih dari 100 negara, termasuk AS, Inggris, Prancis, Jerman, dan Turki.
Negara-negara yang belum mengakui kemerdekaannya termasuk Serbia, Rusia, dan China.