Erric Permana
14 April 2018•Update: 15 April 2018
Erric Permana
JAKARTA
Indonesia meminta semua pihak untuk menahan diri menyusul keputusan Amerika Serikat (AS) beserta sekutunya yang menyerang Suriah karena tuduhan penggunaan senjata kimia yang diduga dilakukan rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan sikap Indonesia konsisten agar semua pihak untuk menghormati hukum-hukum internasional termasuk piagam PBB yang mengedepankan perdamaian dan keamanan internasional.
“Kita meminta semua pihak menahan diri sehingga tidak terjadi ekskalasi yang membahayakan dan dapat mengancam keselamatan masyarakat terutama perempuan dan anak,” ujar Retno Marsudi di Jakarta pada Sabtu.
Pemerintah Indonesia pun memastikan untuk melindungi Warga Negara Indonesia (WNI) terkait hal tersebut. Dirinya mengaku telah berkomunikasi dengan semua Duta Besar Indonesia untuk Suriah agar memastikan kondisi ribuan WNI terjamin.
“Saya sudah melakukan komunikasi dengan Dubes kita, di Damaskus dan di wilayah Timur Tengah dan ketiga di wilayah Eropa juga dan dubes kita di Washington DC dan kita pantau terus situasinya seperti apa,” tambah dia.
AS, Inggris dan Prancis telah melakukan serangan yang menargetkan tempat penyimpanan senjata kimia rezim Assad setelah Assad melakukan serangan kimia yang diduga membunuh puluhan orang di luar Damaskus, Presiden AS Donald Trump mengumumkan.
"Hari ini, negara-negara Inggris, Prancis dan AS telah mengerahkan kekuatan mereka melawan barbarisme dan kebrutalan," kata Presiden AS Donald Trump dari Ruang Pertemuan Diplomatik di Gedung Putih dalam pernyataan yang disiarkan secara nasional.
Trump mengatakan AS siap "untuk meneruskan" serangan militer "sampai rezim Suriah menghentikan penggunaan senjata kimia",
Sebelumnya Jumat, AS mengumumkan bahwa pihaknya memiliki "kepercayaan yang sangat tinggi" bahwa rezim Assad bertanggung jawab atas serangan kimia yang diduga akhir pekan lalu.
The White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil, mengklaim bahwa rezim Assad mengunakan serangan kimia, yang dikatakan menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan lainnya di Douma.