Muhammad Abdullah Azzam
17 Januari 2019•Update: 21 Januari 2019
Adel Abdelrheem Humaida Elfadol, Gülşen Topçu
KHARTOUM
Wakil Presiden Sudan Faisal Ibrahim Ibrahim mengajak para pelajar, mahasiswa dan kaum muda untuk tidak berpartisipasi dalam demonstrasi yang akan digelar pada kamis ini.
Wakil Presiden Ibrahim menyerukan kepada para kaum muda untuk berperilaku positif, melindungi sarana publik dan menjaga keselamatan mereka, serta tidak mendengarkan seruan yang akan membahayakan negara mereka.
Ibrahim mengatakan dalam sebuah pertemuan, pemerintah sedang berusaha membuka lapangan pekerjaan untuk para kaum muda dan berdialog dengan mereka.
Demonstrasi di Sudan menyebar ke daerah perumahan di ibu kota karena krisis ekonomi dan politik negara itu tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pendemo turun ke jalan-jalan Al Kalakla, Jabra dan Al-Thawra, kata saksi mata kepada Anadolu Agency.
Langkah itu diminta oleh serikat profesional independen untuk menambah momentum protes yang sedang berlangsung untuk mengakhiri melambungnya biaya hidup.
Polisi menggunakan gas air mata untuk menumpas massa, menangkap puluhan aktivis, kata saksi mata.
Sudan menyaksikan protes yang meluas pada Minggu di banyak kota, termasuk ibu kota Khartoum.
Para pemrotes meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah, menyerukan demokrasi, perdamaian dan keadilan.
Protes nasional, yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan, juga menyerukan agar Presiden Omar Al-Bashir mundur.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, al-Bashir berjanji untuk terlibat dalam "dialog nasional" yang melibatkan partai-partai oposisi dan kelompok-kelompok pemberontak, dan mendesak pihak-pihak yang berseteru untuk kembali ke meja perundingan menjelang pemilihan umum 2020.
"Kami ingin menyelesaikan krisis ini melalui dialog. Karena itu kami menyerukan oposisi dan pemberontak untuk duduk bersama dalam dialog nasional dan menyelesaikan masalah ini," ujar presiden.
Al-Bashir kemudian menuding negara-negara barat diam-diam memantik krisis ekonomi Sudan dan merencanakan untuk mengacaukan negara dengan "tentara bayaran".
"Kami tidak akan mentolerir sabotase oleh elemen asing," tegas dia.
Sudan telah diguncang gelombang protes sejak Desember lalu karena krisis ekonomi dan kegagalan pemerintah dalam memperbaiki krisis komoditas.
Otoritas Sudan mengatakan bahwa sedikitnya 24 orang telah tewas dalam demonstrasi, sementara kelompok oposisi menyebut total korban jiwa mencapai 40 orang.