Astudestra Ajengrastrı
22 Agustus 2018•Update: 23 Agustus 2018
Esref Musa dan Burak Karacaoglu
IDLIB, Suriah
Masyarakat sipil di Provinsi Idlib, sebelah barat laut Suriah, yang menjadi tempat tujuan para pengungsi di tengah konflik yang melanda negara ini, menyambut datangnya Iduladha dengan sukacita pada Selasa, meski masih dilingkupi berbagai kesusahan.
Dikuasai oleh faksi oposisi anti-rezim, Idlib saat ini menjadi rumah bagi sekitar empat juta warga Suriah yang melarikan diri dari rumah mereka untuk menghindari serangan rezim Assad.
Mohammed Kaddor, pemimpin kamp pengungsian Ahli di Idlib, berkisah kepada Anadolu Agency bahwa hanya sedikit warga yang bisa menikmati perayaan Iduladha.
"Beberapa punya cukup uang untuk membeli barang-barang baru, tapi kebanyakan hanya bisa membeli di toko-toko barang bekas," kata dia. "Sementara, mereka yang tak punya keluarga atau uang hanya bisa tinggal di kamp penampungan."
"Anak-anak yatim piatu dan keluarga para martir tidak bisa makanan khas Iduladha, juga tidak bisa membeli baju baru," tambah dia.
Rezim Assad baru-baru ini mengirimkan pasukannya ke Idlib yang dikuasai oposisi, ujar Kaddor, membuat para pengungsi ketakutan akan kemungkinan serangan rezim di area tersebut.
Um Mahmoud, seorang wanita Turkmen yang kehilangan suaminya dalam serangan udara Assad, bercerita bahwa dia -- dengan tujuh anaknya -- menggantungkan diri pada sumbangan dari lembaga-lembaga kemanusiaan untuk perlengkapan Iduladha.
"Kalau tidak ada lembaga-lembaga kemanusiaan, kami tidak punya apa-apa untuk dimakan," ujar dia.
"Saya tidak punya pendapatan atau orang yang bisa membawa pulang uang," imbuhnya pilu.
Um Mahmoud meratapi nasibnya yang tak bisa membelikan barang-barang yang diinginkan anak-anaknya.
"Sesuai tradisi, anak-anak saya ingin punya baju baru untuk Iduladha," ujar dia.
Omar Abu Nahla, seorang penghuni kamp pengungsian Kafr Lusin Idlib, mengatakan bahwa Idlib menghadapi gelombang pengungsi dan Suriah tengah dan selatan.
"Anak-anak saya ingin punya baju dan sepatu baru, tapi saya tak sanggup membelikan," kata dia.
"Mereka belum mengerti kesusahan yang kami hadapi; mereka hanya ingin merasa bahagia," tambah dia.
Penghuni kamp pengungsi yang lain, Samar Sallum, membelikan baju bekas di pasar lokal untuk anak-anaknya.
Sallum juga mengatakan bahwa populasi di kamp pengungsian melonjak naik dengan adanya para pengungsi baru dari Provinsi Homs dan Daraa.
"Merayakan Iduladha sangat menyenangkan, tapi kami masih membutuhkan banyak bantuan," cerita Sallum kepada Anadolu Agency.
*Ali Murat Alhas turut melaporkan dari Ankara