Michael Hernandez
11 Januari 2018•Update: 12 Januari 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Seorang tersangka yang diduga melancarkan serangan bom di jalur transit subway New York pada 11 Desember dikenai enam tuduhan federal pada Rabu.
Yang termasuk dalam tuduhan yang dilayangkan pada Akayed Ullah, 27, di antaranya yaitu, tuduhan upaya pemberian dukungan material kepada sebuah organisasi teroris, Daesh, serta percobaan penggunaan senjata pemusnah massal.
Ullah, yang merupakan imigran Bangladesh, mengalami luka paling parah akibat ledakan bom di jalur bawah tanah yang menghubungkan terminal bus Port Authority dengan subway. Kini ia harus menghadapi kemungkinan hukuman penjara jika terbukti bersalah.
"Dengan melihat pilihan waktu dan tempat, tujuan pengebom sangat jelas, yaitu untuk menimbulkan kerusakan sebanyak mungkin, dan untuk menyebarkan ketakutan atas nama Daesh ke hati orang-orang New York. Namun rencana tersebut gagal," kata Pengacara A. Geoffrey S. Berman dari Distrik New York Selatan dalam sebuah pernyataan.
Menurut dokumen pengadilan, sebelum serangan terjadi, Ullah sempat menerbitkan tulisan di Facebook yang berisi ejekan untuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
"Trump, Anda gagal menjaga bangsa Anda," tulis Ullah.
Meskipun ia sempat menggunakan hak diam saat ditanyai polisi, pada akhirnya ia mengaku bahwa ia dinspirasi Daesh untuk melakukan serangan tersebut.
"Saya melakukannya untuk Negara Islam," kata Ullah kepada penyidik.
Ia merakit bom pipa selama satu minggu sebelum melancarkan serangan tersebut.
Dalam proses pencarian barang bukti di apartemennya, penyidik menemukan paspor bertuliskan: "Oh Amerika, matilah dalam kemarahan Anda", beserta pipa logam serupa yang ditemukan di lokasi ledakan.