05 Juli 2017•Update: 05 Juli 2017
BERLIN
Kepala badan intelijen Jerman baru-baru ini menyatakan bahwa kantor intelijen Turki adalah “rekan penting” dalam melawan terorisme.
Hans-Georg Maassen mengatakan hal ini pada konferensi pers di Berlin, Kamis, di tengah-tengah lapuran tahunan Federal Office for the Protection of the Constitution (BfV).
Maassen didampingi oleh Menteri Dalam Negeri Thomas de Maiziere, yang juga menandaskan bahwa Turki dan Jerman sama-sama memiliki minat untuk bekerjasama di bidang keamanan, walaupun kedua negara memiliki perbedaan pendapat secara politik.
“Situasi geostrategi Turki memperlihatkan kalau Jerman dan Turki bisa bekerja bersama-sama dalam memerangi terorisme,” ucapnya.
De Maiziere menandaskan bahwa berbagi informasi intelijen soal individu yang dicurigai sebagai teroris dan berasal dari negara konflik seperti Suriah dan Irak ke Jerman merupakan salah satu info yang terpenting.
Perbedaan pandangan politik antara Berlin dan Ankara baru-baru ini membuahkan risiko rusaknya kerjasama di ranah keamanan, terlebih setelah pemerintah kedua negara membatalkan sejumlah pertemuan penting beberapa bulan belakangan.
Tak sepaham soal FETO
Hubungan diplomatik antara Ankara dan Berlin mulai retak sejak gagalnya peristiwa kudeta militer di Turki pada Juli lalu.
Pemerintah Turki secara terang-terangan mengkritik Jerman karena keengganan Jerman untuk menangkapi orang-orang yang disangka ikut terlibat dalam usaha kudeta tersebut. Berlin bersikukuh Ankara menyediakan bukti-bukti legal sebelum mereka bisa melakukan penangkapan.
Pemerintah Turki juga menuduh Jerman menoleransi aktivitas Fetullah Terrorist Organization (FETO) yang dipercaya menjadi dalang kudeta militer 2016.
Saat ditanya soal keinginan Ankara agar badan intelijen Jerman memantau pergerakan anggota FETO di wilayah hukumnya, de Maiziere berkata bahwa anggota FETO di Jerman tidak pernah terlibat dengan aktivitas anti konstitusi.
Dipimpin oleh Fetullah Gullen, pengajar asal Turki yang kini tinggal di AS, FETO diketahui memiliki banyak jaringan di Jerman. Jerman sendiri adalah rumah bagi sekitar 3 juta warga Turki.
FETO selama ini sangat berhati-hati supaya tidak mendulang kritik dari masyarakat Jerman. Mereka lebih banyak melakukan dialog antar-agama dan menyampaikan pesan-pesan moderat untuk mendapatkan kepercayaan media, gereja-gereja, dan institusi politik.
Sejak kegagalan kudeta militer tahun lalu, lebih dari 4000 tersangka FETO terbang ke Jerman dari Turki dan negara-negara lain, menurut lokal media.
Lebih dari 420 warga negara Turki yang dicurigai memiliki hubungan dengan FETO - yang juga memiliki paspor diplomatik - juga mencari suaka di Jerman, beberapa di antaranya sudah diijinkan tinggal di negara tersebut.