06 Juli 2017•Update: 07 Juli 2017
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Turki Suleyman Soylu membagi pengalaman terkait kebijakan negerinya yang membangun dinding perbatasan sepanjang 860 km antara Turki-Suriah untuk mengatasi persoalan Foreign Terrorist Fighters (FTF).
Suleyman Soylu menceritakan kebijakan negerinya itu kepada Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi dan Kepala BNPT Suhardi Alius dalam pertemuan bilateral mereka yang digelar di Ankara, Rabu.
Retno mengatakan, Turki memang mempunyai tantangan yang lebih besar terkait FTF mengingat posisi geografisnya yang berbatasan langsung dengan Suriah. Oleh karena itu, Indonesia meminta masukan dan kiat-kiat dari Turki dalam hal penanganan FTF dan terorisme.
Sementara Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan pembangunan dinding perbatasan oleh Turki sesuai cerita Mendagri Turki membuat arus keluar masuk orang dari dan ke Turki semakin terpantau.
"Jadi tidak mudah lagi orang keluar masuk ke Turki atau ke Suriah karena sudah ada dinding sehingga yang akan masuk harus melalui pemeriksaan yang signifikan. Mudah-mudahan ini juga membantu kita dalam kaitan dengan WNI yang masuk atau mencoba untuk masuk ke Suriah," katanya.
Suhardi mengaku terus berkoordinasi terkait masih banyaknya WNI yang mencoba menyeberang ke Suriah melalui Turki.
Menurut Menlu Retno, WNI yang akhirnya bisa keluar dari wilayah Suriah dan mereka memberikan informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi ini menjadi nilai yang sangat baik dan sangat penting untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak.
"Juga untuk mencegah korban yang dibohongi lebih banyak mengenai situasi yang digambarkan bagus, baik di Suriah. Jadi kesaksian mereka memiliki nilai yang sangat berarti untuk mencegah jatuhnya korban," kata Retno.