06 Juli 2017•Update: 06 Juli 2017
Menurut laporan terbaru yang diterbitkan oleh European Asylum Support Office (EASO) Rabu lalu, meskipun jumlah pencari suaka turun lebih dari 7 persen tahun 2016, pencari suaka dari Suriah justru tetap mendominasi dengan jumlah mencapai 1.3 juta jiwa.
Jadwiga Maccznska, coordinator informasi dan analisis EASO, mengatakan bahwa perjanjin antara Uni Eropa dan Turki yang dihasilkan tahun lalu telah mengurangi masuknya migran ke Turki dari Yunani.
Dalam konferensi pers di Brussel, Jadwiga menjelaskan kalau para migran telah bergerak dengan rute yang berbeda yaitu dari Benua Afrika ke Itali melalui Laut Mediterania.
Pada bulan Maret 2016, Turki dan Uni Eropa telah sepakat “satu untuk satu” formula, dimana pencari suaka yang gagal ke Eropa akan kembali ke Turki, sementara pengungsi Suriah akan ditempatkan di negara-negara Uni Eropa dalam sistem kuota.
Komisi Eropa sudah mengeluarkan laporan pada April 2017 yang menyatakan kalau target jumlah dalam perjanjian itu tidak terlaksana.
Menurut laporan dari komisi tersebut, total dari relokasi para korban perang ini hanya 16.340 jiwa sejak Maret lalu, jauh dari target awal yaitu 160.000 jiwa.
Persetujuan tentang pengungsi Suriah ini berhubungan dengan fasilitas bebas visa untuk warga Turki yang ingin ke Uni Eropa.
Selain itu, laporan EASO juga menjelaskan kalau negara yang memberikan fasilitas untuk pencari suaka adalah: Jerman, Itali, Perancis, Yunani, dan Austria. Para pencari suaka ini kebanyakan berasal dari Suriah, Afganistan, Irak, Pakistan dan Nigeria. Setidaknya sepertiga dari pencari suaka dibawah usia 18 tahun.