Maria Elisa Hospita
08 Januari 2021•Update: 10 Januari 2021
Gabriel Toueg
SAO PAULO, Brasil
Brasil mencatat total 200.000 kematian akibat Covid-19 pada Kamis, hanya 10 bulan setelah dikonfirmasinya kematian pertama.
Sejauh ini Brasil mencatat angka kematian terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
Meskipun begitu, Brasil belum mengungkapkan rencana vaksinasi nasional.
Baru-baru ini Presiden Jair Bolsonaro memulai kampanyenya menolak vaksin, dengan mengumumkan bahwa dia tidak akan disuntik vaksin dan vaksin tidak wajib.
Di tengah meningkatnya angka kematian, Brasil juga kewalahan karena kapasitas rumah sakit yang menipis.
Para ahli bahkan mengatakan ini bisa menjadi fase terburuk pandemi.
Di hari yang sama, hasil vaksin dari China, CoronaVac, diumumkan oleh pemerintah Brasil.
Pengumuman ini dipandang sebagai kemenangan politik Gubernur Joao Doria atas Bolsonaro. Keduanya adalah calon presiden 2022.
Tidak seperti pemerintah federal, Doria bergerak lebih cepat dalam mengimpor dan memproduksi vaksin secara lokal.
Dia mengumumkan bahwa vaksinasi akan dimulai pada 25 Januari, tetapi regulator lokal ANVISA belum mengeluarkan izin penggunaan darurat. Permintaan resmi harus diajukan pada Jumat.
Efektivitas vaksin, menurut pemerintah Sao Paulo, 78 persen untuk kasus ringan dan 100 persen untuk kasus parah.
Sekitar 13.000 sukarelawan Brasil berpartisipasi dalam uji coba vaksin yang dimulai Juni lalu. Data uji coba itu dipresentasikan ke ANVISA pada Kamis.