Michael Hernandez
03 Januari 2018•Update: 04 Januari 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Donald Trump pada Selasa mengancam akan memotong dana bantuan Palestina menyusul kekalahan diplomatiknya di hadapan PBB.
"Kami memberikan RATUSAN JUTA DOLAR per tahun dan tidak menerima apresiasi atau hormat," cuit Trump di Twitter.
"Mereka bahkan tidak mau merundingkan perdamaian dengan Israel. Kami telah mengambil Yerusalem, bagian tersulit dari negosiasi ini, tapi Israel untuk itu harus membayar lebih mahal. Namun sekarang Palestina tidak tertarik merundingkan perdamaian, jadi mengapa kita harus tetap membayar mahal ke mereka?"
Ancaman itu datang tidak lama setelah AS menarik dana kemanusiaan sebesar USD225 juta dari Pakistan menyusul tuduhan terorisme.
Utusan AS untuk PBB Nikki Haley sebelumnya juga mengatakan kepada wartawan di New York bahwa Trump "tidak mau memberikan kucuran dana hingga Palestina setuju kembali ke meja negosiasi".
Bulan lalu, AS menghadapi kecaman internasional di PBB ketika mereka menolak keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hanya beberapa negara saja yang setuju dengan AS dalam pengambilan suara dengan hasil 128-9, walaupun Washington mengancam akan memotong bantuan kepada negara-negara yang menentang mereka.
Haley mengatakan resolusi PBB itu "tidak membantu keadaan".
Sejauh ini, status Yerusalem tergantung pada proses negosiasi Israel dan Palestina dan langkah Trump itu dilihat seperti meloncati proses tersebut. Keputusan AS itu dihujat dunia, termasuk oleh negara-negara barat, dan memantik demonstrasi di Israel dan Palestina.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan setelah langkah itu, Washington tidak bisa lagi menjadi penengah dalam proses perdamaian.
Yerusalem tetap menjadi pusat konflik Israel-Palestina, dengan Palestina yang mengharapkan Yerusalem Timur -- saat ini masih diduduki Israel -- menjadi ibu kota negaranya kelak.
Trump mengatakan ingin membantu perundingan perdamaian antara kedua pihak dalam proses yang disebutnya sebagai "kesepakatan puncak". Namun sejauh ini usahanya belum berhasil. Tugas itu dihibahkan kepada menantunya, Jared Kushner, yang gagal mencatat kemajuan dalam proses itu.