İqbal Musyaffa
15 September 2018•Update: 16 September 2018
Ovunc Kutlu
NEW YORK
AS akan melanjutkan pengenaan tarif USD200 miliar untuk impor produk asal China, menurut laporan pada hari Jumat. Langkah ini menghidupkan kembali perang perdagangan antar dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin, Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross dan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer pada hari Kamis. Berdasarkan laporan, Presiden menginstruksikan para pembantunya untuk melanjutkan pengenaan tarif untuk China, menurut berita Bloomberg.
Keputusan Trump untuk memberlakukan tarif tambahan datang meskipun ada sinyal dari Washington awal pekan ini untuk memulai kembali perundingan perdagangan dengan Beijing.
Kepala penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menegaskan pada hari Rabu, bahwa Mnuchin menyampaikan undangan kepada para pejabat China untuk putaran pembicaraan baru.
Namun, Trump mengatakan komitmennya untuk tetap membebankan tarif untuk impor produk China pada Kamis melalui Twitter.
“Kami tidak ada tekanan untuk membuat kesepakatan dengan China, mereka berada di bawah tekanan untuk membuat kesepakatan dengan kami. Pasar kami melonjak, (pasar) mereka ambruk. Kami akan segera mengambil miliaran dalam tarif dan membuat produk di rumah,” kicau Trump.
Berita tentang keputusan untuk melanjutkan pengenaan tarif menyebabkan saham di New York menurun. Indeks Dow Jones jatuh sebanyak 87 poin dalam perdagangan tengah hari, sementara S&P 500 turun serendah 9 poin, dan Nasdaq turun 42 poin.
Pemerintahan Trump mengatakan pada pekan lalu pihaknya siap untuk membebankan tarif USD200 miliar untuk China. “Masih ada lagi USD267 miliar tarif yang siap untuk digunakan dalam waktu singkat jika saya mau,” tegas Trump.
Dengan tarif USD50 miliar yang sudah diberlakukan, jumlah total tarif terhadap China akan naik menjadi USD517 miliar - sedikit lebih banyak daripada jumlah impor AS asal China tahun lalu yang mencapai USD505 miliar.
Sementara itu, China akan mencari izin dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk menjatuhkan sanksi pada AS Jumat depan, berdasarkan agenda pertemuan WTO.