Maria Elisa Hospita
25 April 2018•Update: 26 April 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Pemimpin Korea Utara telah menunjukkan sikap yang sangat "terhormat" dan "terbuka" jelang perundingan untuk denuklirisasi di Semenanjung Korea, kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Selasa.
Komentar itu muncul menjelang pertemuan Trump-Kim yang akan digelar pada Mei atau Juni. Jika terlaksana, pertemuan tersebut akan menjadi tatap muka pertama antara keduanya.
"Mungkin saja pertemuan itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa, dan mungkin saja tidak terwujud sama sekali," kata Trump di Gedung Putih. Dia menambahkan, "Jika perundingan tidak masuk akal, maka saya akan mengakhirinya."
Trump menekankan bahwa denuklirisasi berarti Korea Utara menghentikan program nuklirnya.
Komentar Trump sangat bertolak belakang dengan pernyataannya sebelumnya: "Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un baru saja menyatakan bahwa 'Tombol Nuklir siap diluncurkan setiap waktu.' Akankah seseorang dari rezimnya yang serba kekurangan memberi tahunya bahwa saya juga memiliki Tombol Nuklir, dan itu jauh lebih besar dan lebih kuat dari miliknya!"
Pada Selasa, Kim dikabarkan sedang mempersiapkan untuk melakukan apa yang selama ini dianggap mustahil oleh para pengamat, yakni membuka akses Korea Utara bagi inspektur internasional untuk memverifikasi denuklirisasi di negaranya.
Surat Kabar Korea Selatan Dong-A Ilbo melaporkan, pemimpin Korut rupanya telah mengirim pesan ke AS yang menyatakan kesediaannya untuk membuka akses bagi Badan Energi Atom Internasional.
Akhir pekan lalu, rezim Kim mengumumkan akan mengakhiri uji coba nuklir dan rudal balistiknya, namun tidak berkomitmen dalam denuklirisasi total.
Perkembangan selanjutnya diharapkan dapat tercapai dalam pertemuan antar-Korea yang akan digelar Jumat ini.