Ahmet Gurhan Kartal
14 Oktober 2018•Update: 15 Oktober 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Turki berharap ada kerja sama Arab Saudi atas kasus hilangnya jurnalis terkemuka, ujar Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu pada Sabtu.
Berbicara dengan wartawan di Kediaman Duta Besar Turki di London, Cavusoglu mengatakan ada kesepakatan untuk membentuk kelompok kerja bersama dengan pejabat Arab Saudi terkait kasus Jamal Khashoggi, yang hilang sejak terakhir kali memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Pernyataannya itu muncul pada hari pertama kunjungannya ke London selama tiga hari.
“Kami meluncurkan sebuah penyelidikan setelah hilangnya Khashoggi,” ujar Cavusoglu, kemudian dia menambahkan: “Penyelidikan ini semakin mendalam.”
Dia mengatakan ada kesepakatan untuk membentuk kelompok kerja bersama terkait kasus tersebut dengan pejabat Arab Saudi setelah mereka memintanya, tetapi, “Ini bukan berarti kami akan menghentikan,” investigasi Turki.
Cavusoglu menekankan bahwa hasil penemuan investigasi dapat membantu kelompok kerja bersama tersebut. Khashoggi adalah warga negara Arab Saudi tetapi “Arab Saudi harus bekerjasama,” dengan memberikan akses kepada jaksa dan ahli Turki kepada konsulat.
Menanggapi bahwa kerja sama sejauh ini gagal, dia menambahkan: “Untuk semua yang harus diselesaikan, kami ingin melihat ini.”
“Seluruh dunia terfokus pada kasus ini,” ujar Cavusoglu, menambahkan topik ini akan diangkat dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy hunt pada Senin.
Pada hari yang sama dengan kedatangan Khashoggi di konsulat, 15 warga Arab Saudi, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan menggunakan dua pesawat dan mengunjungi konsulat saat Khashoggi juga berada di dalam, ujar sumber kepolisian. Semua orang yang teridentifikasi telah meninggalkan Turki.
Otoritas Saudi belum memberikan penjelasan yang jelas mengenai nasib Khashoggi, sementara beberapa negara–khususnya Turki, A.S. dan Inggris—mendesak agar kasus tersebut diselesaikan secepatnya.
--Pendeta Brunson
Pada kasus pendeta Amerika Andrew Brunson, yang dibebaskan oleh pengadilan Turki pada Jumat, Cavusoglu mengutuk bahasa ancaman dan sanksi AS yang "tidak dapat diterima" pada menteri Kabinet Turki atas masalah ini, menekankan bahwa Ankara selalu mengatakan "masalah ini akan diselesaikan oleh pengadilan."
Cavusoglu mengatakan pengadilan menyatakan Brunson bersalah dan menjatuhkan hukuman 3 tahun penjara–kemudian membebaskannya karena perlakuan baiknya dan masa tahanan habis—dan “semuanya harus menghormati ini.”
Orang Amerika dan masyarakat barat menganggap warganya, di manapun mereka tinggal dan apapun tuduhan yang dihadapi, “tidak tersentuh,” ujar Cavusoglu, menambahkan bahwa sikap ini bertentangan dengan “aturan hukum.”
Cavusoglu mengatakan dia berharap “AS sekarang mengerti tekanan tidak membawa dampak apa-apa,” sebagaimana semua kasus harus diserahkan kepada proses hukum.
Brunson ditahan pada Desember 2016, beberapa bulan setelah upaya kudeta yang gagal, dan menghadapi beberapa tuduhan yang berhubungan dengan terorisme, termasuk menjadi mata-mata untuk FETO, kelompok dibelakang upaya kudeta.
Sebelumnya, pada Sabtu, Cavusoglu memberikan pidato di Blethley Par di Chatham House dengan tema “Europe in a Changing World Order.” Pembangunan di regional didiskusikan dalam pertemuan, kata dia.
Selanjutnya Cavusoglu bertemu dengan perwakilan LSM Turki dan dia mengatakan akan bertemu beberapa organisasi media Inggris dalam kunjungannya ke London.
Diyar Guldogan juga berkontribusi dari Ankara